Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 03-07-2006
  • 590 Kali

GUNAKAN FIA UNTUK PANTAU SITUASI KETAHANAN PANGAN

Sumenep-Kominfo News Room : Dewan Ketahanan Pangan Propinsi Jawa Timur dalam memantau situasi ketahanan pangan di Jawa Timur telah menggunakan pendekatan Food Security Atlas (FIA) atau peta kerawan pangan. Pendekatan itu pada prinsipnya memberikan informasi kepada aparatur pemerintah dan masyarakat tentang situasi pangan di Jawa Timur, melalui penjaringan dengan indikator-indikator yang telah disusun sebagai cerminan faktor-faktor yang menentukan tingkat rawan pangan. Kepala Badan Ketahanan Pangan, Drs. Tari Soegiono MM, saat ditemui di Hotel Cendana Surabaya pada Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Propinsi Jatim, kemarin mengatakan, indikator FIA digunakan untuk mengetahui tingkat kerawanan pangan di tingkat Kecamatan pada Kabupaten rawan pangan di Jatim dengan data terbaru. “Sasaran kegiatan ini, difokuskan pada delapan Kabupaten/Kota, yakni Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Sampang, Pamekasan, Bangkalan, dan Sumenep,“ katanya. Hasil (Susenas) Konsensus Nasional 2002 menyebutkan, konsumsi pangan penduduk tingkat rumah tangga secara agregat nasional sudah lebih baik di bandingkan konsumsi 1999 dan sudah mendekati tingkat konsumsi sebelum terjadi krisis moneter 1996. namun persentase pengeluaran rumah tangga untuk pangan mengalami penurunan dari 1999 sampai 2002. Sedangkan investigasi lanjutan dari Susenas 2002 menunjukkan pengeluaran bulanan per kapita terendah mengkonsumsi kurang dari 70 persen dari 2100 kilo kalori normatif yang dibutuhkan per kapita per hari. Dengan demikian, rata-rata 10 juta orang megkonsumsi kurang dari 70 persen kalori yang dapat dikategorikan kelompok rawan pangan dan rawan gizi (defisit energi dan protein-red). Dijelaskan, pendekatan FIA itu digunakan kelompok kerja Perguruan Tinggi dan instansi terkait seperti Universitas Brawijaya Malang, Badan Ketahanan Pangan (BKP), Dinas Pengairan dan Dinas Perkebunan, untuk penelitian berdasarkan 10 indikator rawan pangan kronis, di antaranya persentase penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, desa yang tidak memiliki akses penghubung yang memadai, konsumsi normatif per kapita terhadap rasio ketersediaan pangan, persentase penduduk tanpa akses listrik dan berat badan bayi di bawah standart. Hasil penelitian melalui pendekatan FIA yang dilakukan para akademisi dari Universitas Brawijaya Malang menyebutkan, daerah yang perlu segera ditangani di Kabupaten Jember, untuk kategori prioritas satu, dua dan tiga, yaitu Jelbuk, Sumberjambe, Sukowono, Tempurejo, Silo, Mayang, Mumbulsari, Sumberbaru, Panti, Sukorambi, Kalisat, Ledokombo. Dan sumber penyebab kerawanan pangan, antara lain kemiskinan, tidak ada akses listrik dan rendahnya angka harapan hidup. Sedangkan di Kabupaten Bondowoso, di daerah Tamanan, Wringin, Cermee, Sukosari, Pakem, tegalampel dan sumber penyebab kerawanan pangan, yakni kemiskinan, tidak ada akses listrik, rendahnya angka harapan hidup, wanita buta huruf, tidak ada akses air bersih. “Untuk Kabupaten Situbondo, Probolinggo, Bangkalan, Sumenep, Sampang dan Pamekasan untuk sumber penyebab kerawanan pangan tidak jauh beda“, paparnya. Dia berharap, kegiatan itu dapat memberikan solusi bersama antara instansi pemerintah dengan lembaga penelitian dari perguruan tinggi, dan untuk hasil penelitian dari Universitas Brawijaya Malang itu, pemerintah Prop Jatim akan lebih memberikan perhatian pada daerah rawan pangan yang dikategorikan prioritas satu, dua dan tiga. ( JNR, Esha )