News Room, Sabtu ( 18/10 ) Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap kesehatan balita utamanya akan pemenuhan gizi, menjadi faktor utama semakin tingginya angka penderita gizi buruk di Kabupaten Sumenep. Terbukti, sesuai catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, angka gizi buruk sejak Januari hingga Oktober 2008, mencapai 129 kasus, yang tersebar di wilayah daratan dan kepulauan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, dr. Susianto, mengatakan, tingginya angka kasus gizi buruk itu, selain lemahnya kesadaran warga juga faktor cuaca yang menimpa kepulauan. Jika cuaca laut memburuk, maka suplay kebutuhan pokok tersendat. “Petugas medis dan Posyandu sudah berusaha untuk menekan angka gizi buruk. Tapi, kenyataannya dilapangan masih saja ditemukan kasus yang tidak diinginkan itu,†terang dr. Susianto, ketika dihubungi melalui jaringan telepon, Sabtu (18/10). dr. Susianto mengaku, untuk kasus gizi buruk di kepulauan sangat kesulitan diatasi secara maksimal. Apalagi, jika cuaca laut sedang tidak bersahabat. “Makanya, kami optimalkan betul keberadaan Posyandu di kepulauan,â€Âujarnya. Ia menjelaskan, angka kasus gizi buruk yang terjadi tahun ini, masih dibawah 20 persen, sebab jumlah bayi yang ada pada tahun 2008 ini mencapai 20.000 lebih. “Bila diakumulasi, angka kasus gizi buruk tahun ini dengan angka bayi masih dibawah 20 persen,â€Âkatanya. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Sumenep sudah menganggarkan dana penanganan kasus gizi buruk sebesar Rp. 628 juta. “Anggaran itu dinilai masih kurang, tapi Dinas Kesehatan akan tetap berusaha menekan angka gizi buruk pada tahun 2009 mendatang,â€Âtegasnya. ( Nita, Esha )