News Room, Rabu ( 05/10 ) Merskipun sempat kecewa dengan pelaksanaan pekan Olah Raga Propinsi (Porprop) Jawa Timur 2011 bulan Juli lalu, namun para pesilat muda di Kabupaten Sumenep tidak ingin larut dalam kekecewaan, karena tidak berhasil meraih kejuaraan dalam ajang seni bela diri tersebut. Ketua IPSI CAbang Sumenep, Adi Sunaryo Sofa, kepada News Room, rabu (05/10) mengungkapkan, dari 18 perguruan pencak silat di Sumenep mayoritas tetap eksis melaksanakan latihan di perguruannya masing-masing. “Bahkan, tidak jarang masing-masing perguruan melaksanakan ujian kenaikan tingkat dan menggelar kejuaraan di internal perguruannya.”jelasnya. Sebab, tegas putra pendekar silat Sumenep, Rasid Sofa ini, pada dasarnya seni olah raga pencak silat tidak hanya sekedar untuk arena kejuaraan. Namun, lebih kepada nilai seni dan budaya tradisional dari nenek moyang yang perlu terus dilestarikan. Sedangkan bentuk kejuaraan sejatinya hanya sebagai penyemangat dan memupuk jiwa ksatria pesilat itu sendiri. Jadi, dalam setiap kejuaraan silat semata-mata untuk mengukur tingkat kesatria dari para pesilat. Bahkan, disamping kejuaraan silat dalam setiap moment kejuaraan pencak silat juga dilaksanakan khusus seni bela diri kembangan. Yakni, yang dinilai dari kelihaian dan keindahan gerakan tubuhnya. Karena itu, Adi Sunaryo mengaku akan terus menyemarakkan seni bela diri pencak silat khususnya di Kabupaten Sumenep. Seperti halnya momentum pertama kali setelah terpilih sebagai Ketua IPSI Sumenep, dengan menggelar event Piala Bergilir IPSI Pertama di Kabupaten Sumenep Bulan Juni 2011 lalu. Disamping itu tegasnya, bersama dengan para pengurus IPSI Sumenep, akan terus memberikan pembinaan kepada para perguruan pencak silat di Sumenep. Bahkan, pihaknya juga tidak segan-segan akan memberikan sangsi kepada perguruan silat yang tidak mengindahkan kode etik dan kode kehormatan IPSI. “Bentuk sangsi bisa bermacam-macam, mulai dari teguran hingga dilakukan diskors dengan tidak diperbolehkan mengikuti segala bentuk kejuaraan pencak silat dalam kurun waktu tertentu.”pungkasnya. ( Ren, Esha )