News Room, Senin ( 28/03 ) Gerakan pemberantasan buta aksara yang dirancang Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep tahun ini nampaknya tidak setengah hati. Langkah ini bukan karena penduduk buta aksara diwilayah Sumenep mencapai angka 18.473 orang. Namun karena sebelumnya terdapat appresiasi Bupati Sumenep, Drs. KH. A. Busyro Karim, M.Si yang menghendaki, agar penuntasan buta aksara pada tahun ini harus dikaitkan dengan peningkatan taraf hidup masyarakat melalui ketrampilan (life skill). Oleh karenanya, wajar kalau kemudian Kabid PLS Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep menetapkan Program Keaksaraan Fungsional (KF) bagi penyandang buta aksara. Karena, setiap kelompok KF nantinya akan dilengkapi dua tenaga tutor yakni tutor pembelajaran dan nara sumber tehnis (NST) untuk ketrampilan. Pembelajaran melalui dari membaca, menulis dan berhitung (calistung) dan mendengarkan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kadis Pendidikan Kabupaten Sumenep melalui Kabid PLS, Drs. Moh. Sidik, M.Si, MM mengatakan, kerangka KF lebih diarahkan kepada proses dalam mempertahankan peradaban. Artinya, “Aksara Membangun Peradaban“. Dengan kerangka kerja semacam itu maka ukuran pencapainnya adalah kompetensi keberaksaraan untuk meningkatkan kualitas hidup diri dan lingkungannya. Karena, menurut pandangan Siddik keberaksaraan yang rendah akan dapat menghambat bagi seseorang untuk mengakses informasi, pengetahuan, ketrampilan dan sikap, sehingga kurang terlatih beradaptasi dan mengatasi berbagai masalah termasuk masalah ekonomi sosial dan budaya. Untuk mencapai tujuan itu, maka pihak Dinas Pendidikan harus mengembangkan ragam keaksaraan. Diantaranya menajamkan Program Keaksaraan Dasar, Keaksaraan Usaha Mandiri atau Aksara Kewirausahaan, Keaksaraan Keluarga, Keaksaraan Komunitas Khusus, Keaksaraan Berbahasa Ibu, Keaksaraan Bencana, Peningkatan Budaya Tulis melalui Koran Ibu dan Peningkatan Budaya Baca melalui Taman Bacaan Masyarakat. Tujuan Aksara Agar Berdaya (AKRAB) adalah meningkatkan keberaksaraan penduduk dewasa usia 15 keatas yang masih terbatas kemampuan Balistung dan berkomunikasi dalam bahasa nasional melalui berbagai pengalaman belajar yang memberdayakan. Selama ini KF dilaksanakan oleh kelompok PKK, PKBN ( Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat ), Yayasan, Ormas dan LSM. Sasaran penduduk buta aksara untuk tahun ini kata Siddik dimulai bulan Juli hingga Desember 2011. Anggarannya sharing antara APBN dan APBD Propinsi. Anggaran pembelajaran setiap kelompok keaksaraan fungsional sebesar Rp 3.600.000,00. Target Sumenep tahun ini akan membebaskan buta aksara sekitar 7.000.000 orang atau tahun 2015 Sumenep harus tuntas buta aksara. “Rencananya dalam rangka menyambut Hardiknas nanti akan ada pameran produk unggulan hasil ketrampilan dari kelompok Keaksaraan Fungsional yang ada di Kabupaten Sumenep jelas Sidik. ( JuP-01, fery)