News Room, Jumat ( 05/08 ) Akibat kemarau panjang yang terjadi selama ini membauat air sungai khususnya di Kecamatan Lenteng menyusut. Sehingga, otomatif aliran pembagian air harus dilakukan seoptimal mungkin, sehingga yang satu tidak melakukan pengaliran air sewenang-wenang dan tidak menyebabkan petani lainnya merasa dirugikan karena tanahnya kekuarangan air. Hal tersebut ditegaskan Kasubag TU Dinas Pengairan Kabupaten Sumenep, Moh. Sadik ketika ditemui usai memberikan pengarahan kepada sejumlah petani di Kantor UPT Dinas Pengairan Kecamatan Lenteng tadi siang Jum’at (05/08). Menurutnya, selama ini sebenarnya keberadaan air dari hulu masih tetap mencukupi selama tidak ada yang mengambil air tanpa sepengatahuan petugas pengairan. “Sebab, selama ini banyak petani yang mengambil air dengan menggunakan mesin air tanpa izin dari petugas pengairan, sehingga berakibat sawah di ujung tidak mendapat jatah aliran air,”ujarnya. Karena itu untuk kedepan diharapkan tidak akan terjadi lagi penyalah gunaan air seperti itu. Bahkan petugas akan selalu melakukankontrol setiap hari hingga tidak ada penyerobotan air. Sebab, kasihan petani yang berada di ujung, hingga tanamannya harus menjadi mati kekeringan, akibat ulah petani lainnya. Apalagi saat ini lagi musim tembakau. Air yang ada 75 persen digunakan untuk menyiram tembakau dan 15 persen untuk mengairi tanaman padi dan jagung, sehingga perlu dilakukan upaya musyawarah antar petani agar pembagian air di Jepun di kanan dan kiri Jepun bisa tertib dan petani sama-sama menikmati aliran air. Sebab, kebutuhan air merupaqkan kebutuhan seluruh masyarakat petani dan tidak boleh hanya dimonopoli oleh orang-orang tertentu yang membuat petani lainnya menderita. Dan, jika dibiarkan akan menjadi persoalan yang berkepanjangan dan dikhawatirkan terjadi kerawanan sosial. Karena itu kesadaran petani harus dimulai dari petani itu sendiri, sementara petugas bisa memnfasilitasi untuk kenyamanan bersama,”pungkasnya. ( Ren, Esha )