Media Center, Sabtu ( 28/04 ) Pemerintah Kabupaten Sumenep menginginkan Festival Cipta Menu Daun Maronggi (kelor), jangan sekedar sebagai kegiatan seremonial semata, namun harus ada program berkelanjutan dalam upaya pengembangan daun maronggi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumenep.
“Saya harapkan setelah lomba ini pihak terkait di pemerintah daerah, harus proaktif memfasilitasi pengembangan daun maronggi di Sumenep, seperti adanya rumah makan khusus yang menyediakan berbagai jenis makanan dan minuman bahannya dari daun maronggi, seperti beragam makanan dan minuman yang tersaji di lomba ini.” kata Bupati saat membuka Festival Maronggi dalam Lomba Cipta Menu Berbasis Beragam, Bergizi dan Aman tahun 2018, di Gedung GNI Sumenep, Sabtu (28/04).
Bupati menyatakan, pihaknya optimis dengan adanya rumah makan khas daun maronggi membuka peluang usaha baru di Sumenep, karena masyarakat tidak hanya menanam pohon maronggi untuk keperluan keluarga saja melainkan juga sebagai penambah penghasilan keluarga.
Apalagi, organisasi kesehatan dunia (WHO) menjuluki daun maronggi sebagai “daun ajaib”, karena berdasar penelitian, daun maronggi berjasa sebagai penambah kesehatan berharga murah selama 40 tahun di negara-negara miskin di dunia, bahkan sebagai ramuan ampuh sepanjang hidup yang khasiatnya bisa menyembuhkan lebih dari 300 jenis penyakit.
“Saat ini, daun maronggi telah menjadi primadona bagi seluruh masyarakat di dunia, namun masyarakat Sumenep masih mempercayai dan memanfaatkan daun maronggi hanya sebagai pengusir setan. Karena itu saatnya, kita bersama-sama merubah kepercayaan itu dengan memanfaatkan daun maronggi untuk menolak kemiskinan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.” imbuhnya.
Bupati mengungkapkan, beberapa tahun ini, sudah ada kelompok yang memproduksi maronggi bernilai ekonomis. misalnya saja kelompok Nurul Jannah di Bluto yang mampu memproduksi 30-40 ton daun maronggi kering perbulan untuk dijadikan serbuk dan jamu maronggi.
“Masifnya permintaan pasar daun maronggi, harus menjadi peluang industri oleh masyarakat Sumenep yang hasilnya sudah diekspor ke berbagai negara, seperti di Blora, ada pengusaha sukses memproduksi daun maronggi sebagai teh celup yang peminatnya berbagai negara dengan omzet puluhan juta Rupiah perbulan.” pungkasnya.
Sementara itu Ketua TP-PKK Kabupaten Sumenep, Ny. Nurfitriana Busyro Karim menambahkan, dilaksanakannya lomba menu Maronggi tidak lain untuk meningkatkan peran serta masyarakat khususnya kelompok wanita dalam memasyarakatkan konsumsi pangan berbasis beragam, bergizi seimbang dan aman atau B2SA, sebagai penyempurnaan konsep 4 sehat 5 sempurna.
“Kami pada lomba menu tahun ini lebih memfokuskan pada pemanfaatan daun maronggi sebagai menu unggulan.” tandasnya. ( Yasik, Fer )