Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 21-06-2006
  • 604 Kali

Dari Perjalanan Rombongan Bupati ke Jogya : Ya Tuhan, Tabahkan Hati Mereka…..!

DPRD Sumenep News : Jum'at sore (16 Juni 2006) sekitar pukul 16.00 wib Rombongan Bupati Sumenep KH. RAMDLAN SIRADJ, SE, MM, berangkat dari rumah dinas di Jalan Panglima Sudirman menuju Jogya. Turut serta dalam rombongan Ketua DPRD Sumenep Drs. KH. Drs. Abuya busyro Karim, MSi, jajaran Muspida, kepala dinas, Bagian, LSM dan sejumlah wartawan. Perjalanan yang cukup melelahkan tersebut memakan waktu sekitar 12 jam. Ditengah perjalanan, tepat pukul 04.30 wib, rombongan yang mengendarai bus sempat berhenti sejenak di salah satu mesjid di daerah Klaten. Semua rombongan di masjid itu menunaikan ibadah sholat shubuh sejenak secara berjemaah dengan Imam KH. Ramdlan Siraj SE. MM. Seusasi sholat, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Jokyakarta. Selama di Klaten, rombongan terlihat rasa capek dan kesal. Namun tidak beberapa lama, bersamaan dengan matahari terbit, dari kaca mobil mulai terlihat tanda-tanda akibat gempa. Sepajang kiri kanan jalan, tempak puing–puing rumah berserakan. Sepanjang jalan klaten hingga jogya, rommbongan hanyut dalam rasa pilu dan haru. Kepedihan para korban gempa yang menyayat hati mulai terasa menghimpit dada. Para Ibu yang turut dalam rombongan, tidak kuasa menahan rasa ibanya. Sesekali diantara mereka ada yang menyeka linangan air mata, karena saking tidak kuasanya menatap sekitar yang penuh keprihatinan. "Betapa beratnya cobaan saudara–saudara kita korban gemba bumi ini", seloro salah seorang anggota rombongan sambil tertegun menyaksikan pemandangan yang tidak enak di mata dan hati. Sabtu 17 Juni 2006 sekitar 06.00 wib, ketika pagi itu kami menginjakkan kaki di hotel tempat rombongan transit. Saat itu wajah tegang dan kesal bercampur rasa pilu, semakin mengahantui perasaan kalbu. Tidak terkecuali Bupati Ramdlan, juga terlihat tegang saat melintasi lorong yang menghubungkan dengan ruang kamar, tempat rombongan beristirahat. "Masya-Allah", seru rombongan, saat mengetahui salah satu sudut dinding hotel terlihat retak dan menganga. Kemegahan bangunan hotel yang umumnya elit dan mewah sekejab sirna oleh retakan bangunan tersebut. Tak ayal, suasana itu semakin menambah ciutnya hati rombongan. "Ya Tuhan, semoga tak ada aral dan rintangan selama kami berada di Jokya", doa yang mengiri setiap langkah rombongan setibanya di Jogya. Situasi semakin dag dig dug, ketika secara tiba-tiba datang gempa susulan menggoyang Jogya. Gempa ringan itu terjadi sekitar pukul 08. 00 wib, saat Bupati dan rombongan tengah Break First (sarapan pagi) di restoran hotel. Untungnya pada gempa susulan yang berskala kecil tersebut tak memakan korban. Perkiraan rombogan, gempa mungkin berasal dari lempengan yang masih belum stabil. Sesaat setelah sarapan pagi, sekitar pukul 9, rombongan untuk pertama kali melakukan aktivitas, yaitu bertandang ke kantor Wali Kota Jogyakarta. Tidak seperti biasanya, deretan rumah disepanjang ruas jalan menuju kantor wali kota yang dulunya tampak mempesona, saat itu yang terlihat hanya puing–puing bertebaran. Pemandangan semraut ternyata tidak hanya ditemui sepanjang jalan. Di kantor Wali Kota tampak pula sejumlah truk besar diparkir begitu saja di halaman depan. Setelah dilihat dari dekat, ternyata truk-truk tersebut memuat sembako, Triplek, bahan bangunan, Garam, Tenda, Minyak Goreng, Mie Instan, Kecap, Pakaian Baru dan Sandal Jepit. Menurut petugas, pemandangan seperti itu sudah biasa sejak peristiwa gempa menimpa Jogya. Namun tanpa disangka sebelumnya, ternyata truk-truk yang penuh dengan barang bantuan merupakan bantuan Pemkab. Sumenep yang tiba sebelumnya. Maklum, truk yang memuat bantuan Kabupaten Sumenep itu sudah berangkat mendahuli rombongan dengan pengawalan Dinas kesejahteraan Sosial. Di kantor Wali Kota, rombongan yang dipimpin langsung oleh Bupati Sumenep Ramdlan Siraj diterima langsung oleh Wali Kota Drs. Hery Yudianto dan Muspida Kota Jogyakarta. Beberapa menit rombonga dengan Wali Kota melakukan ramat tamah membicarakan seputar dampak peristiwa gempa. Pada ksempatan itu, Bupati Ramdlan sempat menyampaikan rasa keprihatinannya atas jatuhnya korban akibat gempa lalu. "Bantuan yang diberikan masyarakat Kabupaten Sumenep mudah–mudahan dapat meringankan beban kehidupan para korban gempa", ujarnya. Sementara itu, menimpali ungkapan Bupati, Wali Kota menyampaikan rasa terima kasihnya atas bantuan yang diberikan Pemerintah Kabupaten Sumenep. Wali Kota juga berjanji bahwa bantuan tersebut akan segera disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Disela ramah – tamah, acara juga dilanjutkan dengan penyerahah bantuan uang tunai sebesar 60 juta rupiah, dan sejumlah bantuan lainnya sebanyak 6 truk. Penyerahan ditandai dengan penanda tanganan oleh Bupati Sumenep dan Wali Kota Jogyakarta dengan disaksikan masyarat Jogya dan Muspida. Usai penyerahan bantuan Bupati dan rombogan yang berjumlah 40 orang, melanjutkan perjalanan menuju lokasi-lokasi bencana. Rombongan menemui masyarakat korban gempa dan melakukan dialog dengan mereka. Rasa pilu dan keprihatinan kembali menyelimuti saat rombongan menyalami satu persatu para korban bencana. "Tak ada nilainya sebuah bangunan megah yang terbuat dari cor besi, bila berhadapan dengan gempa", seloroh Ketua DPRD Sumenep Drs. Abuya Busyro Karim sepanjang perjalanan. "Ya itulah sebuah cobaan berat bagi masyarakat Jogya. Ini sebuah bukti kebesaran Tuhan kepada ummatnya. Semoga Masyarakat Madura, Sumenep khususnya, dapat dijauhi dari cobaan bencana yang dasyat ini. Amin Ya Robbal Alamin", lanjutnya. Busyro saat itu juga bercerita, perguruan tinggi tempat Ia menempuh pendidikan selama di Jogya dulu ternyata diluar dugaan juga terkena gempa. Sosok yang akrab dengan wartawan tersebut, sempat tertegun dan terkesima melihat gedung semegah itu, tapi tidak ada artinya melawan gempa. Hampir semua bangunannya remuk termakan kedasyatan amuk gempa. Sesaat Busyro merenung. Kemudian dengan wajah sedih melontarkan harapannya melalui do'a. "Jauhkan Bumi Sumekar dari marah bahaya seperti gempa yang dialami masyarakat Jogyakarta", gumamnya. Dalam kunjungan ke lokasi bencana, rombongan bupati juga disambut oleh Camat Kecamatan Margansa. Lokasi kecamatan itu merupakan lokasi terparah dibanding daerah lainnya. Maka tidak heran jika di lokasi tersebut terlihat tenda–tenda yang berhimpitan, sesak dan pelik. Sesekali terdengar tangisan anak kecil berlarian menghiasi seputar lingkungan tenda. Jangan salah, tenda–tenda itu bukan tempat anak pramuka berkema, tetapi tempat menampung para korban gempa yang rumahnya ludes diamuk gempa. Dari Nenek tua, ibu-ibu dan anak-anak balita hingga orang dewasa, semuanya ditampung dalam ruang segi tiga yang sempit dan sesak. Saat rombongan melintasi mereka, seorang nenek yang duduk bersama cucunya menyapa rombongan dengan ramah dan penuh rasa haru. Kemudian Rombongan dan Bupati menelusuri perkampungan desa Margansa ke arah barat, dengan dipandu Satlak kota jogyakarta. Setibanya di lokasi, rombongan kembali menyaksikan menghadapi situasi serupa, seperti puing–puing dan runtuhan rumah korban gempa bumi serta cerita tentang beratnya menghadapi cobaan selama berada di penampungan. Istri Bupati Ramdlan, Zaituna, saat mendampigi suaminya ketika itu, spontan memberikan uang sepuluh ribuan kepada bocah - bocah kecil saat menyaksikan korban di lokasi. Tampak menyambut uluran tangan Zaituna, para bocah berhamburan dan berebut mendapat jatah. "Saya bu belum terima kata salah satu bocah", ujar salah seorang bocah. Tidak lama di Margasan, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Bantul. Wilayah Bantul tersebut juga merupakan lokasi terparah dibanding dengan daerah lainnya di Jawa Tengah. Bahkan jika dilihat dari letak lokasi yang dekat dengan pusat gempa, Bantul menempati urutan teratas dalam kerugian yang dialami. "Mudah–mudahan dengan bantuan tersebut akan mengurangi beban hidup mereka", sela bupati saat menijau langusng lokasi di Bantul. (BIR)