Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 08-05-2020
  • 2063 Kali

Dari Parsanga Ke Paberasan; Dari Disuplai Ke Penyuplai Pangan

Media Center, Jumat ( 08/05 ) Pangeran Katandur berhasil mengubah mainset masyarakat Madura Timur, yang awalnya menggantungkan hidup pada hasil laut, menjadi petani.

“Mengolah tanah berkapur, yang kurang subur. Teori nandur sang pangeran dijalankan. Digunakanlah sapi sebagai bantuan tradisional membajak sawah,” kata R. Nurul Hidayat, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep, pada Media Center, Jumat (08/05/2020).

Panen pertama sukses. Sang Pangeran mengajak warga bersyukur. Panen kedua sukses lagi. Begitu seterusnya. Dimulai dari Parsanga, dan puncaknya di daerah yang kini bernama Paberasan, Sumenep bahkan berhasil menciptakan ketahanan pangan.

Paberasan merupakan bahasa Madura, yang bermakna tempatnya beras. Versi lain menyebut Paberasan dari gabungan kata “pa” yang bermakna penghasil, dan “beras(an)” atau banyak beras.

Saat ini Paberasan menjadi nama desa. Secara administratif masih masuk kawasan Kecamatan Kota Sumenep. Paberasan merupakan desa paling timur sebelum masuk kawasan Kecamatan Gapura.

Sumenep yang tandus pun berubah. Puncaknya di abad 18, saat pemerintahan Panembahan Sumolo (1762-1811). “Paberasan lantas menjadi penyuplai beras keraton. Jadi terjadi perubahan kontras, yakni yang awalnya disuplai, karena kan sejak sebelum datang Pangeran Katandur, masyarakat Sumenep belum menjadi petani. Jadi otomatis, pangan disuplai dari wilayah lain,” imbuh Nurul.

Lokasinya yang subur, membuat wilayah Paberasan makmur. Desa Paberasan hingga di masa selanjutnya menjadi tempat penghasil beras/padi. Desa ini bahkan selalu menjuarai di setiap lomba yang diadakan Dinas Pertanian, baik di tingkat kabupaten, provinsi, sampai tingkat nasional.

Pada tahun 2014 Desa Paberasan bahkan keluar sebagai juara 1 (satu) dalam lomba Adi Karya Pangan Nasional. Desa ini juga kaya dengan tradisi dan budaya terkait pertanian. ( Han, Fer )