News Room, Rabu ( 19/02 ) Daftar tunggu naik haji di Jawa Timur, termasuk Madura mencapai 16 hingga 18 tahun. Sementara, jumlah pendaftar terus bertambah dan setiap pendaftar itu harus menyetorkan uang sebesar Rp. 26 juta, sementara mereka harus menunggu beberapa tahun lagi untuk berangkat ke Tanah Suci. Anggota Komisi VIII DPR RI, MH Said Abdullah mengatakan, tingginya daftar tunggu jamaah haji Indonesia membuat sejumlah uang menumpuk di Bank, sebab setiap pendaftar haji harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 26 juta saat mendaftarkan diri sebagai calon jamaah haji. Hal itu dinilai kurang bagus pada perkembangan ekonomi rakyat, karena mayoritas pendaftar haji dari kalangan menengah kebawah, secara otomatis uang dibawah tersedot ke pusat. "Harusnya pendaftaran jamaah haji di stop dulu. Kalau terus pendaftar diterima kan berarti uang masyarakat terkumpul di bank,"kata Said Abdullah, Rabu (19/02). Menurut politisi asal Sumenep, jika memang pendaftaran akan terus diterima, lebih baik para pendaftar haji tidak langsung membayar, artinya cukup mendaftar dengan nama dan alamatnya sehingga uang yang akan dibayarkan itu bisa berputar dibawah. "Kalau memang pendaftaran tidak bisa distop, silahkan dilanjutkan tapi masyarakat tidak usah membayar, baru kalau sudah mau berangkan baru membayar biayanya," terangnya. Ia mengungkapkan, selama ini bunga uang setoran jamaah haji sudah menumpuk yakni mencapai Rp. 52 triliun. Bunga uang storan haji yang mencapai milyaran rupiah itu lebih baik berputar di Desa, tidak menumpuk di Jakarta (Bank). "Milyaran rupiah itu kalau dibiarkan berputar dibawah mungkin lebih baik, tapi kenapa dibiarkan stagnan di Bank,"ujarnya. Said mengaku yakin, kuota jamaah haji tahun ini bisa mencapai 212.000 jamaah, mengingat kondisi penginapan di sekitar Masjidil Haram sudah mencapai 67 persen bisa menampung jamaah. "Jadi kami yakin kuota jamaah haji tahun ini mencapai 212.000 jamaah, sesuai kuota lama. Karena pemukiman jamaah di sekitar Masjidil Haram sudah siap menampung 3 juta sampai 3,5 juta orang,"ungkapnya. ( Nita, Esha )