Media Center, Rabu ( 28/02 ) Pemerintah Kabupaten Sumenep mengajak petani di Sumenep merubah pola pikir bertani tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan tanak (makan, red) keluarga saja.
Bupati Sumenep, Dr. KH. A. Busyro Karim, M.Si mengatakan, pihaknya sejak tahun 2017 melakukan perubahan pola pikir di masyarakat petani, agar bertani itu tidak untuk tanak, melainkan bertani selain hasil panennya buat tanak (makan) juga sebagai bisnis menjual hasil panen dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
“Langkah yang telah dilakukan salah satunya, yakni penanaman jagung di Sumenep dari semula petani menanam jagung lokal saja, namun sejak tahun 2017 juga menanam varietas jagung hibrida,” kata Bupati pada Panen Raya Jagung Program Kemitraan Pengembangan Jagung Hibrida dan Gerakan Tanam Serentak Kedelai di Kabupaten Sumenep, di Desa Sentol Daya, Kecamatan Pragaan, Rabu (28/02).
Bupati menyatakan, perubahan tanam jagung itu juga terkait dengan lahan tanam, agar tanaman varietas jagung hibrida lebih luas supaya hasil penjualan panen jagungnya menguntungkan petani.
“Luas tanaman varietas jagung hibrida itu sebesar 70 persen dan varietas jagung lokal 30 persen, dengan harapan produksi jagung di Kabupaten Sumenep penyumbang terbesar produksi jagung bagi Jawa Timur mencapai 30 persen, bisa bertambah prosentase menjadi 80 persen, sehingga nantinya mampu menjadi Kabupaten penyumbang hasil produksi jagung terbesar secara Nasional,” imbuhnya.
Ia mengungkapkan, pengembangan jagung hibrida di Kabupaten Sumenep dilaksanakan melalui beberapa program, antara lain kemitraan seluas 18.442 hektar, kegiatan fasilitasi penerapan budidaya jagung sebesar 4.500 hektar, perluasan areal tanam jagung (PLTJ) APNM-P Jawa Timur seluas 4.625 hektar, program integrasi jagung hibrida di lahan perkebunan APBN-TP Provinsi Jawa Timur seluas 1.600 hektar.
Total lahan pengembangan jagung hibrida di Kabupaten Sumenep mencapai 29.167 hektar, dengan perkiraan produksi sebanyak 145.835 ton pipilan kering. Bahkan petani mendapat fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BNI 46 sebanyak 7.196 orang, dengan total nilai Rp. 16.013.845.000.
“Selain itu, dalam mendukung proses pemasaran hasil petani, BNI 46 Cabang Sumenep juga memberikan bantuan pinjaman modal melalui program KUR kepada TNI/Babinsa di 6 Kecamatan senilai Rp 500 juta. Termasuk pembelian hasil panen jagung oleh Babinsa dari petani, sampai saat ini terkumpul 105 ton pipilan kering, dari 6 wilayah Kecamatan,” pungkasnya.
Sementara Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Dr. Ir. Sumarjo Gatot Irianto, MS, DAA menambahkan, produksi jagung petani Kabupaten Sumenep sangat bagus, hanya saja dalam pola budidaya jagung harus berubah, karena biayanya sangat mahal.
“Kalau produksi jagungnya bagus sekali, namun saya minta budidaya jagungnya lebih murah, sehingga dampaknya kepada pendapatan hasil panennya petani semakin bertambah,” harapnya. ( Yasik, Esha )