Media Center, Rabu ( 29/11 ) Budaya membaca bagi anak, sangat penting bagi kekayaan pengembangan
kebahasaan anak, sehingga para guru harus bisa menjadikan membaca
sebagai budaya di kelas, agar jendela dunia bisa
terbuka.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Rumah Literasi Sumenep (RLS) Lilik Rosidah Irmawati kepada wartawan, Rabu (29/11).
Menurutnya, dengan membiasakan membaca melalui pembentukan kelas
literasi di sekolah dapat memperkaya bahasa anak, serta mengembangkan
budaya menulis.
“Anak-anak akan mampu menulis, seperti puisi,
cerpen maupun karya ilmiah bagi keprofesian guru sebagai penilaian
peningkatan kinerja guru,”ungkapnya.
Dikatakan, jika kegiatan
menulis bukan hanya pada pembuatan makalah, namun semua jenis tulisan
bisa masuk dalam peningkatan kinerja guru.
Menurutnya, kebiasaan
membaca bagi guru, utamanya bagi anak didik maka akan mampu mengenalkan
anak pada nilai-nilai kehidupan. Disamping itu, Sumenep juga harus
memiliki buku buatan asli Sumenep, sebab banyak sekali potensi di Bumi
Sumekar yang bisa dijadikan bahan penulisan buku, yang menggambarkan
tokoh dan sejarah Kabupaten Sumenep sebagai buku bacaan atau literasi
anak didik.
“Saat ini seluruh guru harus bisa menerapkan budaya
literasi bagi anak didiknya, karena dengan membiasakan anak membaca akan
membuka anak dari semua jenis pelajaran dan dunia luar,”tandasnya.
Sementara itu, gerakan literasi bagi guru maupun anak didik, menurut
istri Sastrawan Sumenep, Syaf Anton WR, saat ini memang sudah mengarah
pada perkembangan digital. Namun, kebiasaan membaca buku harus terus
dikembangkan, karena system digitalisasi juga masih membutuhkan alat dan
tenaga yang professional di bidangnya. ( Ren, Esha )