News Room, Jumat ( 08/05 ) Komersialisasi Bandara Trunojoyo Sumenep, yang di launching Sabtu (02/05) kemarin, dinilai kalangan budayawan tidak akan membawa dampak negatif pada aspek budaya lokal. Dengan catatan harus tetap memperhatikan tradisi dan budaya daerah dalam laju pembangunannya.
“Orang Madura sejak dulu kala sudah mampu membedakan mana yang baik dan yang tidak, terutama dalam konteks pengaruh budaya luar,”kata salah seorang budayawan Sumenep, Edhi Setiawan, SH pada News Room.
Edhi memberi contoh dalam hal arsitektur bangunan kuna di Sumenep. Seperti Masjid Agung misalnya, di sana jelas banyak pengaruh luar yang masuk.
“Masjid saja memiliki banyak corak. Seperti dalam ukirannya, ada pengaruh Eropa, dan China di antaranya,”tambahnya.
Menurut Edhi hal itu menunjukkan sikap keterbukaan orang Madura, dalam hal ini Sumenep. Namun meski begitu, selama ini terbukti Sumenep masih bisa membedakan mana yang merupakan budaya asli dan yang bukan.
“Jadi, saya tak khawatir komersialisasi bandara di Sumenep akan berdampak negatif. Tentunya selama masih menggunakan pertimbangan budaya lokal,”tegasnya.
Terpisah, HD Zawawi Imron mengatakan, bahwa komersialisasi bandara yang jelas akan berpengaruh pada peningkatan ekonomi Sumenep. Namun ia berharap nilai-nilai budaya lokal senantiasa terus dipertahankan.
“Kalau kemungkinan dampak pada budaya bisa saja ada. Tapi, saya kira tidak signifikan,”imbuhnya. ( Farhan, Esha )