Media Center, Rabu (22/10) Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumenep menggelar Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka penguatan tata kelola pariwisata melalui program integrasi Service Dominant Logic (SDL) di kepulauan. Kegiatan yang berlangsung di ruang rapat badan setempat, dipimpin langsung oleh Kepala BRIDA Sumenep Benny Irawan, Rabu (22/10/2025).
Dalam keterangannya, Benny menyampaikan bahwa BRIDA telah melakukan penelitian kebijakan berbasis bukti, untuk mendapatkan keluaran kebijakan yang berdasarkan bukti dan realita di lapangan. Sehingga seluruh kebijakan yang kemudian diambil oleh pemerintah, terkait pariwisata, diharapkan berdasarkan data-data empiris yang ada di lapangan.
“Harapannya seluruh kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah daerah itu benar-benar berdasarkan hasil kajian yang memang berdasarkan data riil di lapangan,” jelas Benny kepada Media Center Diskominfo Sumenep.
“Bahkan dalam hal pariwisata memang dibutuhkan diskusi yang mendalam agar pariwisata bisa meningkat dan ada upaya terstruktur berdasarkan data-data empiris yang ada di lapangan,” lanjutnya.
Benny juga menjelaskan bahwa kegiatan diskusi serupa akan terus diadakan secara berkelanjutan hingga merumuskan sebuah rekomendasi kebijakan untuk memastikan seluruh kebijakan di Kabupaten Sumenep berbasis data. Penelitian-penelitian yang dilakukan baik itu secara internal maupun yang bekerja sama dengan pihak ketiga dapat memberikan manfaat bagi kebijakan daerah.
“Jadi pada saat ini memang diperlukan suatu kebijakan yang pasti akan kita tindaklanjuti. Artinya kita tidak hanya menyelesaikan penelitian tetapi juga dapat merekomendasikan pada pimpinan untuk bisa mewujudkan kebijakan yang bisa meningkatkan atau mengembangkan kepariwisataan yang ada di Kabupaten Sumenep,” tegasnya.
Dalam FGD yang berlangsung selama 3 jam itu, seluruh peserta yang terdiri dari unsur OPD terkait, kecamatan dan desa wisata di kepulauan terlihat sangat antusias menyampaikan gagasan.
Perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika Herman Wahyudi, menyampaikan bahwa branding pariwisata sebaiknya tidak berhenti hanya pada promosi fisik destinasinya saja, tetapi lebih luas pada seluruh pelaku usaha seperti UMKM dan warga sekitar.
“Mereka semua perlu dibekali kompetensi bukan pada sebatas bagaimana membuat produknya saja, tapi juga bagaimana memberikan pelayanan yang baik, sehingga wisatawan mendapatkan kesan yang bagus,” kata Herman.
(Yudi, Han)