News Room, Selasa ( 29/09 ) Kiai Haji Munfar Fahruddin adalah satu-satunya putra dari Kiai Mudhfar Ismail atau Kiai Toros I. Kiai Munfar diperkirakan lahir di kurun 1850-an atau 1860-an Masehi.
Menurut cerita salah satu kerabat dari keluarga Langgar Toros, Kiai Munfar dulu mondok di pesantren Kiai Haji Mohammad Khalil atau Syaikhana Khalil Bangkalan. Bahkan ceritanya, Kiai Munfar ini tercatat sebagai salah satu santri senior.
“Bahkan ceritanya beliau ini mondok di Bangkalan lebih dulu dibanding Kiai Zainal Arifin Terate,”kata kerabat keluarga Toros, Drs. Mohammad Raheli, pada News Room.
Menurut Raheli, ada suatu riwayat mengenai Kiai Munfar saat masih mondok di Bangkalan. Kiai Munfar ini merupakan santri yang sangat ta zhim pada guru. Bahkan, diceritakan beliau ini lama mondok sambil mengabdi pada guru.
Namun lama-kelamaan Kiai Munfar merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Beliau merasa kurang cepat dalam menyerap ilmu, bahkan terkesan sangat lambat. Malah tak jarang banyak santri-santri yang yunior melebihi beliau dalam hal kealiman.
Santri-santri di bawah beliau bahkan sudah banyak yang mengamalkan ilmunya setelah berhenti mondok dan sudah banyak yang kesohor sebagai ulama besar, seperti contohnya di Sumenep ialah Kiai Zainal Arifin Terate. Singkat cerita, Kiai Munfar menghadap Kiai Khalil dan mengadukan perihal dirinya.
“Wahai guru, mengapa hamba masih belum juga menyerap ilmu yang guru berikan. Padahal secara hitungan waktu, hamba sudah lama mengaji di sini,”kata Kiai Munfar. “Oo, begitu ya,” kata Kiai Khalil sambil tersenyum.
Lalu Kiai Khalil menyuruh Kiai Munfar mengambil sebilah pisau. Lalu dawuhnya, “nonduk bakna, areya se ngandengi masokna elmo,”perintah Kiai Khalil sambil menyembelih leher bagian belakang atau tengkuk Kiai Munfar sampai mengeluarkan banyak darah.
Setelah itu, Kiai Khalil berujar lagi, “ella dhuli mole bakna, pas morok”. Konon, setelah itu, Kiai Munfar yang awalnya tidak alim, tiba-tiba atas idzin Allah berubah menjadi sosok yang alim luar biasa, dan mampu mengamalkan ilmunya.
Singkat cerita, beliau langsung pulang ke Toros, dan menggantikan ayahnya Kiai Mudhfar. Kiai Munfar juga dikenal sebagai ulama besar di Sumenep yang diakui kealimannya.
Kiai Munfar Fahruddin menikah dengan Nyai Halimah dari Desa Lembung, Kecamatan Lenteng, dan dikaruniai 7 putra putri. Yaitu Nyai Aminatuzzahra, Kiai Mohammad Dhafir, Nyai Sholihah, Nyai Zahiya, Nyai Hanifatuttayyibah, Nyai Hawa un Naqiyah, dan Nyai Muthmainnah.
Selepas Kiai Munfar, estafet pengasuh Pesantren Toros jatuh ke putra dan menantu-menantunya, hingga sekitar 3 generasi. Namun, karena banyak di antara keturunannya yang berkecimpung di ranah pemerintahan, seperti sebagai penghulu, dan sebagainya, akhirnya pesantren Toros mengalami kemunduran.
Di antara keturunan Kiai Toros adalah ibu dari Kiai Haji Mohammad Khathib Miftah, dan Kiai Haji Zaini Miftah bersaudara.
Saat ini pesantren Toros tinggal bekasnya. Namun sejarahnya tetap hidup di benak keluarga keturunan pengasuh dan santri-santrinya. ( Farhan, Esha )