Sumenep-Kominfo News Room : Bank jangan jadi rentenir bagi nasabahnya. Ungkapan Gubernur Bank Indonesia (BI), Burhanuddin Abdullah itu spontan mendapat aplaus dari undangan yang hadir, saat membuka pameran dan bazar perbankan dan UMKM di Parkir Timur Plasa Surabaya, Jumat (21/07). Menilai ungkapan Gubernur BI, Ketua Kadin Jawa Timur, Ir. Erlangga Satriagung ditemui usai pembukaan bazar itu mengatakan, pada saat Bank mengucurkan dana pinjaman dan nasabah mengolah kredit pinjaman, peran Bank sudah tidak dapat dirasakan lagi. “Setelah masyarakat menjadi nasabahnya, pihak Bank hanya bisa menunggu si nasabah datang ke Bank untuk menyetor uang pinjaman kreditnyaâ€, ujarnya. Seharusnya seorang perbankan yang baik, mereka harus secara kontinyu membina dan mengarahkan nasabahnya untuk bisa menciptakan inovasi dan kreativitas bagi nasabah dalam mendorong usahanya agar tidak mengalami kesulitan pembayaran kredit dikemudian hari. Kesulitan pertumbuhan perekonomian perbankan di Indonesia bukan tanpa sebab. Dua di antaranya, sikap kehatian-hatian atau bahkan rasa ketakutan pihak Bank dalam mengucurkan dana dan sulitnya masyarakat mendapatkan kredit, karena tidak ada agunan atau kecilnya agunan. Erlangga menjelaskan, pelaku perbankan yang baik adalah mereka yang bisa melayani nasabahnya sebaik mungkin. Artinya, Bank jangan hanya bisa menawarkan bunga pinjaman yang rendah, tapi juga harus bisa memberikan inisatif dan alternatif pemikiran, agar kredit berjalan lancar. Pelaku bisnis perbankan di Indonesia sampai saat ini masih menunjukkan kecenderungan hanya menunggu dibalik meja kantor. Mereka memberikan pinjaman kerdit tanpa mau susah-susah melakukan pembinaan kepada nasabahnya. Diakuinya, bank-bank cenderung menjadi rentenir bagi nasbahnya. Setelah nasabah menikmati kredit, bank hanya mau menunggu nasabahnya untuk membayarkan kredit. Padahal, hakekat dari sebuah bisnis perbankan, selain dari sebuah unit usaha, bank juga diharapkan bisa menjadi pemicu tumbuhnya perekonomian masyarakat utamanya pelaku usaha mikro. “Bank jangan hanya mementingkan kepentingan makro saja, tapi kepentingan mikro juga,†ujarnya. Sampai saat ini suku bunga kredit yang ditawarkan masih jauh dari ideal. Menurutnya, bunga kredit idealnya 13 prosen, tapi saat ini bunga kredit masih berkutat pada angka 18 prosen. Diharapkan, Bank Jatim selaku Bank pemerintah dapat menjadi contoh dunia perbankan yang sehat dan mampu membangkitkan gairah perekonomian rakyat. ( JNR, Esha )