Media Center, Selasa ( 21/07 ) Apen merupakan salah satu jajanan tradisional khas yang ada di Desa Parsanga, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep. Jajanan ini dikenal sebagai penerus kuliner khas daerah yang telah diwariskan secara turun-temurun hingga saat ini memasuki generasi ketiga.
Salah seorang pemilik usaha apen di Desa Parsanga, Kus Suryati, mengungkapkan, usaha kuliner apen yang dijalankan sejak tahun 2000-an ini merupakan usaha yang diteruskan dari neneknya, Mbah Atik, sejak dulu memiliki usaha jajanan tradisional tersebut.
“Awal berdirinya usaha keluarga ini secara pasti tidak tahu, karena sejak kecil nenek sudah jualan dan di tahun 2000-an saya baru melanjutkan hingga saat ini,” ujar Kus panggilan akrabnya, kepada Media Center bersama Mahasiswa Magang Uniba Sumenep saat ditemui di rumahnya, Selasa (21/07/2026).
Diakui pemilik usaha Apen Rainbow ini, jika usahanya semakin dikenal masyarakat setelah mengikuti lomba kuliner Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di tahun 2000 lalu dan sempat mendapatkan penghargaan, sehingga pihaknya semakin terdorong untuk terus melestarikan dan mengembangkan usaha jajanan tradisional ini.
Dikatakan, hingga saat ini usahanya tetap berjalan dengan baik, dengan cita rasa tradisional yang tetap dipertahankan sebagai identitas utama jajanan apen.
Meskipun diakui awalnya hanya tersedia apen dalam varian original. Seiring perkembangan selera konsumen, pihaknya menghadirkan inovasi berupa Apen Rainbow dengan beberapa varian warna dan rasa yang berasal dari bahan-bahan alami.
“Warna apen kami dibuat dari bahan alami tanpa tambahan pewarna buatan. Untuk apen warna kuning diperoleh dari telur ayam kampung, warna hijau berasal dari daun pandan dan daun suji, sedangkan warna merah menggunakan sari buah naga,” jelasnya.
Sedangkan produk apen original dipasarkan dengan harga Rp12.000,- per kemasan dan apen rainbow dijual seharga Rp15.000,- per kemasan yang berisi sepuluh potong.
Selain apen, UMKM ini juga memproduksi serabi manis dan serabi kuah sebagai pelengkap pilihan produk yang ditawarkan kepada konsumen.
Sementara untuk pemasarannya, Kus mengakui sebagian besar dilakukan melalui telepon seluler dan WhatsApp, terutama melalui fitur status dan belum memanfaatkan media sosial lainnya seperti TikTok sebagai sarana promosi.
Selain itu, produk juga dipasarkan melalui pedagang pasar yang mengambil produk langsung dari lokasi usaha untuk dijual kembali kepada konsumen.
“Untuk saat ini, sistem ini kami nilai sangat efektif, karena produk yang dipasarkan di pasar umumnya habis terjual pada pagi hari,” tandasnya.
Ditambahkan, penjualan apen rainbow selama ini tergolong stabil. Pada hari biasa, omzet harian yang diperoleh mencapai sekitar Rp500.000,-, sedangkan pada momen tertentu seperti Hari Raya Idulfitri, acara reuni, maupun kegiatan instansi pemerintahan, permintaan meningkat mencapai Rp800.000,- hingga lebih dari Rp1.000.000,- per hari.
Bahkan, beberapa kali menerima pesanan dari berbagai instansi untuk keperluan rapat maupun kegiatan resmi sebagai alternatif sajian selain roti.
Dalam proses produksinya, dibantu oleh beberapa tenaga kerja yang jumlahnya disesuaikan dengan banyaknya pesanan. Apabila permintaan meningkat, jumlah tenaga yang membantu juga bertambah agar seluruh pesanan dapat diselesaikan tepat waktu.
Meskipun diakui persaingan usaha jajanan tradisional cukup banyak, namun hal itu tidak menjadi hambatan utama. Kepercayaan pelanggan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun menjadi modal penting bagi keberlangsungan usaha.
“Alhamdulillah, pelanggan kami rata-rata sudah mengenal kualitas dan cita rasa khas apen yang kami produksi, sehingga tetap memberikan kepercayaan kepada kami,” tambahnya.
Hingga saat ini, pihaknya tetap berkomitmen untuk mempertahankan keaslian cita rasa kuliner tradisional khas Desa Parsanga. Dengan menjaga kualitas, menggunakan bahan-bahan alami, serta mempertahankan resep turun-temurun, UMKM ini terus berupaya melestarikan salah satu warisan kuliner khas Kabupaten Sumenep tersebut. ( Ren, Fer )