News Room, Senin ( 24/05 ) Selama 26 tahun tidak ada kejelasan terkait ganti rugi lahan seluas 450 m2, yang ditempati Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pagarbatu 3, Kecamatan Saronggi, akhirnya berujung pada penutupan paksa gedung sekolah itu, yang dilakukan pemilik lahan, yakni Syaiful Bahri (29), warga setempat. Penyegelan oleh puluhan warga yang mengendarai mobil pick up dan sepeda motor tersebut, dengan cara memberi pagar bambu dipintu masuk dan digembok. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar (KBM) 70 siswa SDN Pagarbatu 3 tersebut dihentikan. Pihak sekolah terpaksa memulangkan siswa lebih awal. Pemilik lahan, Syaiful Bahri mengatakan, pihaknya sudah merasa cukup menunggu ganti rugi lahan yang mencapai puluhan tahun, namun tidak kunjung ada kejelasan. “Kami sudah berusaha aktif dengan berkirim surat maupun mendatangi Dinas Pendidikan maupun Pemerintah Kabupaten Sumenep, tapi tidak ada respon. Bahkan, hingga Senin (24/05) ini belum ada kejelasan, makanya kami tutup saja sekolah tersebut. Sekolah ini harus ditutup, sebelum ada penyelesaian dari pihak terkait,â€Âkata Syaiful, pada wartawan di SDN Pagarbatu 3, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Senin (24/05). Ia menjelaskan, selain itu, yang menjadi puncak kemarahannya, yakni ibu pemilik lahan, Ternawiyah (46) hanya dijanjikan menjadi PNS, padahal sudah 9 tahun menjadi sukwan penjaga sekolah. “Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Saya hanya minta ganti rugi Rp. 250.000,00/meter,†tegas Syaiful pada wartawan dilokasi. Sementara, salah seorang guru SDN Pagarbatu 3, Kecamatan Saronggi, Mohammad Adi (40) mengaku tidak tahu persoalan adanya aksi penutupan sekolah yang dilakukan sekelompok orang tersebut. “Saya tidak tahu masalah, tapi karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, siswa saya dipulangkan lebih awal. Besok, saya bersama guru lainnya tetap berkomitmen untuk masuk, namun kalau masih ditutup, ya siswa dipulangkan lagi,â€Âujarnya. Selain menutup pintu masuk SDN Pagarbatu 3, Kecamatan Saronggi, dengan digembok dan diberi pagar bambu. Pemilik lahan juga memancang spanduk berukuran besar yang bertuliskan "Sekolah Ditutup ! Karena dibangun diatas tanah hasil rampokan". ( Nita, Esha )