News Room, Senin ( 19/12 ) Salah satu wasiat utama Sultan Sumenep Abdurrahman Pakunataningrat, saat ini sudah mulai diabaikan. Wasiat yang khusus diberikan pada para peziarah umum maupun keturunan bangsawan Kabupaten Sumenep itu kini nyaris hilang. Wasiat itu ialah agar para peziarah lebih dulu menjejakkan kakinya di pasarean Agung Kangjeng Kai Adipati Suroadimenggolo ke-V, sebelum berziarah ke kubah Sultan dan sesepuh lainnya.
“Padahal dulu hal ini tidak pernah ditinggal. Namun kini saya lihat sudah tidak diindahkan. Para peziarah langsung ke Asta Raja. Sementara Asta Kangjeng Kai hanya dilewati,” kata salah satu pemerhati sejarah di Kabupaten Sumenep, R.P.M. Mangkuadiningrat, pada News Room.
Wasiat itu tercatat jelas di papan pasarean Kangjeng Kai di Asta Tinggi. Namun papan itu kini dipindah sehingga agak tersembunyi. Para penjaga asta juga tidak pernah memberikan penjelasan mengenai wasiat itu. Khususnya bagi peziarah umum. “Ini harus diperhatikan oleh segenap famili. Mungkin para penjaga asta generasi sekarang banyak yang tahu. Atau tahu tapi lupa. Dan parah kalau misalnya tidak peduli dan tak mau tahu,” kata Mangku.
Kompleks pasarean Raja-raja Sumenep di Asta Tinggi, Desa Kebunagung, Kecamatan Kota Sumenep sejak dulu kala merupakan kawasan yang dikeramatkan. Hingga saat ini kawasan tersebut tetap ramai diziarahi banyak orang dari segala penjuru.
Di kawasan itu juga ada pasarean Raja Semarang, yaitu Kangjeng Kai, Kangjeng Adipati Suroadimenggolo ke-V. Di Semarang beliau dikenal dengan sebutan Kangjeng Terboyo. Pembesar tanah Jawa yang dikenal alim besar dan anti penjajah. Beliau lantas ditangkap dan dibuang ke Ambon sebelum kemudian diasingkan ke Sumenep.
“Beliau mendapat jaminan dari Sultan Sumenep. Sultan adalah menantunya. Namun ada hubungan sepupuan di antara keduanya. Karena ibunda Sultan adalah putri Raja Semarang,” terang Mangku.
Meski bukan kerajaan besar, bahkan secara de jure setingkat kadipaten, Raja-raja Sumenep banyak yang dikenal waliyullah. Kangjeng Kai ini juga dikenal seorang arif billah. Bahkan menurut Mangku, kalangan bangsawan tanah Jawa juga mengakui itu. Sehingga di jaman dulu banyak bangsawan kelas tinggi, maupun tokoh-tokoh ulama yang biasa sowan atau nyalase ke makam-makam keramat di Kabupaten Sumenep.
“Dalam kisah tutur, Pangeran Diponegoro juga waktu di Sumenep sering menyepi atau ziaroh ke makam-makam keramat di Sumenep,” imbuh Mangku.
Lebih lanjut Mangku berharap agar tradisi kuna terkait Asta Tinggi khususnya tetap terjaga. Termasuk juga wasiat utama Sultan di atas. “Ini kalau ditinggal su’ul adab, karena Sultan sendiri mengakui akan ketinggian maqom Kangjeng Kai ini. Makanya diwasiatkan agar diziarahi lebih dulu. Meski posisi pasarean di bawah asta raja,” tutupnya. ( M Farhan, Fer )