News Room, Selasa ( 08/11 ) Sultan Abdurrahman Pakunataningrat tak hanya dikenal sebagai cendekiawan yang luas ilmunya. Beliau juga dikenal dengan pandangan politiknya dalam menghadapi cengkraman kuku penjajah. Pandangan politik yang dikenal dengan nama Ajala Sottra ini pernah dimasyarakatkan di masa pemerintahan sosok yang disetarakan atau diakui pihak Kolonial Belanda ini sejajar dengan penguasa kasultanan di Jogja maupun kasunanan di Solo.
“Secara garis besarnya politik Ajala Sottra ini digunakan untuk menghadapi tekanan politik andalan Belanda: devide et empera. Politik memecah belah kekuatan atau yang dikenal dengan siasat adu domba,” kata R. B. Nurul Hidayat, salah satu pemerhati sejarah muda di Kabupaten Sumenep.
Ajala Sottra disebutnya merupakan gerakan perlawanan yang sifatnya samar bahkan tak terlihat. Namun implikasi yang didapat berupa keuntungan atas kerugian yang ditelan lawan. Namun tanpa membuat lawan itu membalas atau balik menyerang.
“Dalam menerapkan Ajala Sottra, Sultan Abdurrahman terlebih dulu memasyarakatkannya melalui simbol-simbol dalam atribut sehari-hari. Yakni dengan menciptakan sebuah busana adat pria dalam kesehariannya. Busana itu diberi nama Ganalan atau Billa Banten. Busana itu terdiri atas lima perlengkapan,” katanya.
Perlengkapan pertama ialah ikat kepala yang diberi nama gantong re’-kere’. Makna bebasnya dalam bahasa Indonesia ialah menggantung anak anjing yang masih bayi atau baru lahir. Re’-kere’ dalam wujudnya berupa binatang najis yang warna kulitnya putih kemerah-merahan. Warna kulit yang sama dengan milik orang Belanda. Sehingga maksud dari istilah itu ialah ‘gantung, orang-orang Belanda!’.
“Perlengkapan kedua ialah kain baju dan sarung yang bermotif kembang (kain sarung pacenan). Kain motif kembang ini merupakan motif perempuan. Makna dari pemilihan jenis kain itu ialah bahwa politik Ajala Sottra ini sangat halus dan sangat berhati-hati seperti layaknya kaum perempuan,” jelas Nurul.
Perlengkapan busana selanjutnya ialah memakai abinan kerres (keris). Maksud yang terkandung di dalamnya ialah bahwa politik Ajala Sottra sangat tajam dan ampuh, seperti keris Sumenep yang dikenal bertuah.
Setelah itu memakai perlengkapan berupa ikat pinggang yang terdiri dari dua macam. Ikat pinggang pertama ialah ikat pinggang berwarna merah dan kuning yang diberi nama kapodhang nyocco’ sare. Maknanya ialah raja berseri-seri. Ikat pinggang kedua terdiri dari warna merah dan hijau daun, yang disebut kapodhang nyocco’ dhaun. Istilah tersebut bermakna raja tengah murka. Kedua istilah itu konon dijadikan Pangeran Diponegoro sebagai judul dari kidung-kidung ciptaannya saat beliau dibawa ke Sumenep.
“Perlengkapan terakhir ialah alas kaki berupa selop yang bagian depannya tertutup. Maknanya ialah perjalanan politik Ajala Sottra harus dilakukan dengan hati-hati dan dengan sangat halus, sehingga bisa berhasil dengan lancar dan selamat, tanpa rintangan apapun,” imbuh Nurul.
Stategi Ajala Sottra dijelaskan juga oleh Sultan Abdurrahman dengan membuat perumpamaan orang yang hendak memeras madu. Dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Cara mengambilnya harus sedikit demi sedikit dan bukannya sekaligus. Dengan demikian lebah yang menjaganya tidak sampai mengamuk yang justru membahayakan bagi sang pengambil madu. Intinya, madu didapat tanpa membuat lebah menyerang yang mengambilnya. “Perumpaan itu merupakan intisari dari politik Ajala Sottra,” tutup Nurul. ( M. Farhan, Fer )