Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 10-12-2005
  • 1001 Kali

TAYANGAN TELEVISI BERBAU PORNO SUPAYA DIHAPUS

Sumenep-Infokom News Room : Ibu Negara, Ani Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar tayangan-tayangan televisi yang berbau pornografi dihapuskan, guna melindungi anak-anak dari tontonan seperti itu. “Anak- anak bisa jadi penonton. Kadang-kadang mereka ada juga yang belajar sampai larut malam. Oleh karena itu, tolong bagaimana cara ini supaya dapat dihapus, dihilangkan“, kata Ibu Ani dalam acara dialog dengan Panitia Nasional Hari Ibu ke 77 di Istana Negara Jakarta, Jum’at (09/12). Ia menuturkan, dirinya suatu malam bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menonton televisi, dan saat itu melihat ada tayangan yang mengarah ke pornografi. “Saya sangat terkejut, ternyata tengah malam masih ada siaran yang berbau pornografi “, ujarnya. Ia juga meminta kaum perempuan Indonesia, terutama yang berada di Legislatif, untuk membantu penghapusan pornografi dan pornoaksi.“Yang sering menjadi obyek adalah perempuan dan anak anak. Oleh karena itu marilah kita bersatu padu, suarakan secara lantang, jangan hanya berbisik-bisik tentang hal ini “, katanya. Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat dan dampaknya deras mengalir kerumah-rumah tangga, kata Ibu Ani mengingatkan, memang tidak dapat begitu saja dibendung. Namun dampak teknologi pesat itu masih dapat dicegah dan diimbangi dengan cara menguatkan ketahanan dirumah tangga keluarga masing-masing. Anak-anak misalnya, diberi pendekatan yang persuasif atau melalui pengajaran agama, agar mereka tidak perlu menonton tayangan yang berbau pornografi. “Kalau perlu, larang mereka menonton“, katanya. Hadir dalam dialog yang berlangsung sekitar 1,5 jam itu antara lain Nyonya Mufidah Yusuf Kalla, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meuthia Hatta, para Isteri anggota Kabinet Indonesia Bersatu, para Tokoh Organisasi dan Pejuang Perempuan. Dalam dialog mencuat berbagai permasalahan menyangkut ibu dan anak, termasuk kematian ibu, gizi anak, pornografi, kekerasan dalam rumah tangga, perlindungan hukum, serta perdagangan perempuan dan anak. Ibu Negara menyampaikan, peran perempuan Indonesia dari zaman ke zaman cenderung berbeda, karena secara otomatis peran itu menyesuaikan diri dengan tantangan yang dihadapi, misalnya tugas mengangkat senjata, ketika zaman kemerdekaan. Perempuan Indonesia zaman sekarang, menurutnya, dihadapkan kepada tantangan berbeda yang harus dihadapi bersama dengan menjalankan peran masing-masing. “Bagi kita sendiri, tantangan kedepan adalah kemiskinan, kebodohan, dan ketidak adilan“, tegasnya. Ibu Ani menyoroti masih minimnya jumlah perempuan yang maju kedepan dibidang politik, misalnya dikalangan Legislatif. Saat ini jumlah perempuan di DPR adalah 64 orang atau 11 prosen dari total anggota Dewan yang berjumalah 550 orang. Prosentase 11 prosen itu masih jauh dari target 30 prosen jumlah perempuan di DPR “Saya kecewa, karena perempuan di Dewan, baru 11 prosen. Kita harus melihat, dimana letak kesalahannya ?� katanya. Ia meminta perempuan Indonesia untuk meningkatkan aspek mental, fisik, moral, intelektualitas dalam memberikan kontribusi kepada bangsa. “Apabila kita sudah menunjukkan karya nyata kepada bangsa dan negara, yakinlah, rakyat akan memilih kita “, pesan Ibu Ani. Sementara itu, seperti yang dilaporkan Ketua Umum Panitia Nasional, Ny. Linda Agung Gumelar, puncak Hari Ibu tanggal 22 Desember 2005 ini akan di pusatkan di Sasana Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Presiden Susilo Bambang Yudoyono seperti yang dituturkan Ibu Negara, berencana menghadiri puncak peringatan itu. Peringatan Hari Ibu tahun ini berupaya menangani masalah kemiskinan, kelaparan, kesenjangan gender, kekerasan dalam rumah tangga, kematian ibu, bayi, pornografi, pornoaksi, penyalah gunaan narkoba dan HIV/AIDS serta meningkatkan kwalitas pendidikan, budi pekerti dan peran perempuan dalam politik. ( KCM, Esha )