Media Center, Senin ( 24/07 ) Bagi generasi Sumenep saat ini yang sudah dewasa di kurun1970-an, mungkin tidak sedikit yang mendengar istilah Perang Pacca’. Namun, tidak seperti ilustrasi maupun gambaran dari perang secara umum, perang ini jauh dari kontak fisik berupa duel, sekaligus berdarah-darah. Sebutan pacca’ dalam perang ini mengacu pada alas kaki yang pada umumnya dipakai umat Islam saat mau shalat, maupun di aktivitas sehari-hari. Bahkan pacca’ juga identik dengan aksesoris busana para ulama di kala itu.
“Perang Pacca’ ini merupakan istilah dari sikap para ulama kala itu saat terjadi perubahan garis shaf di Masjid Panembahan Sumolo atau Masjid Agung Sumenep,”kata RB. Muhlis, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep, pada Media Center.
Di awal 1970-an memang pernah ada perubahan garis shaf masjid. Konon, perubahan tersebut merupakan instruksi Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) atau Sekretaris Daerah (Sekda). Perubahan itu sontak menyinggung kalangan ulama Sumenep. Seperti yang diketahui, Masjid Agung Sumenep dibangun oleh Panembahan Sumolo, penguasa Sumenep yang dikenal alim di bidang agama. Pembangunan itu juga jelas melibatkan para alim-ulama sesuai kompetensinya, termasuk ahli falak.
“Para ulama kita saat itu yang berpijak pada jalan para salaf yang shalih, jelas merasa tersinggung. Namun meski ada penolakan, perubahan garis shaf itu tetap dilakukan,”kata Muhlis.
Sebagai bentuk ketidak-setujuan, para ulama, khususnya kalangan Ta’mir dan Nahdlatul Ulama, menyikapinya dengan tidak shalat di Masjid Agung. Awalnya, Imam pertama Masjid yang dikenal alim dan wira’i, K. RP. Mu’amar Wongsoleksono, tidak bersedia menjadi imam. Beliau memilih shalat di masjid lain. Hal itu juga lantas diikuti banyak kiai di masanya. Bahkan pimpinan NU Sumenep, KH. Usymuni dari Terate mendukungnya, sehingga hal itu lantas dikenal dengan istilah Perang Pacca’.
“Kiai Usymuni bahkan setiap hari Jum’at menjemput Kai (ayah; red) ke rumah dengan mobilnya. Namun, karena merasa tidak enak, Kai lantas mendahului ke Terate sebelum dijemput. Biasanya beliau berdua shalat Jumat berpindah-pindah tiap minggunya, hingga ke pelosok-pelosok. Dan setiap sampai di setiap masjid, khathibnya biasanya langsung turun, dan meminta Kai yang berkhotbah sekaligus mengimami. Saya tahu, karena saya selalu yang menyertai setiap Jumatan itu,”kata Drs. K. R. Hasanuddin Wongso, salah satu putra Kiai Wongsoleksono.
Perang Pacca’ itu berlangsung selama beberapa bulan. Konon sang Sekwilda yang mengubah shaf itu jatuh sakit sehingga sampai harus diamputasi kakinya. Peristiwa itu lantas dipahami sebagai hukuman atau tola dari Sang Kuasa.
“Pemerintah Daerah waktu itu lantas memohon maaf pada para
ulama, dan shaf kembali diubah sebagaimana awalnya. Sejak saat itu, para
Kiai sepuh di Sumenep kembali mengimami Masjid Jami’,”kata Gus Muhlis,
sekaligus dibenarkan oleh Kiai Gus Hasan Wongso. ( M. Farhan, Esha )