News Room, Selasa ( 30/06 ) Dalam sebuah lembaga, birokrasi, instansi, atau apapun yang berkaitan dengan kerja-kerja sosial maupun profesional, pimpinan merupakan ujung tombak. Oleh karena itu, seorang pemimpin tidak hanya harus memiliki karakteristik atau jiwa kemimpinan semata, namun juga harus kaya ide, cerdas, dan yang terpenting tidak alergi pada yang namanya perubahan, sehingga seorang pemimpin yang baik ialah pemimpin yang tidak mudah terjebak dalam kesuksesan masa lalu, apalagi terjebak pada “cara-cara berfikir kemarin” untuk memecahkan permasalahan sekarang. Begitu juga dalam sebuah lembaga pendidikan, entah itu yang bernama sekolah atau madrasah.
Seorang pemimpin juga harus mampu mengukir sejarah cemerlang tersendiri. Meski berada dalam lingkaran sistem birokrasi yang bersifat struktural dan sentralistik, seorang pemimpin sekolah harus mampu menyeimbangkan semua unsur terkait, sekaligus menyatukan banyak karakter dan ide demi kemajuan lembaga sekolahnya.
“Intinya, guru dan para siswa dalam sebuah lembaga pendidikan, untuk menjadi orang yang top itu harus bisa TOP,”kata H. Haeruddin, salah seorang pemerhati pendidikan di Sumenep, pada News Room.
Apa itu TOP? Haeruddin menambahkan jika kata TOP tersebut adalah sebuah singkatan. “Huruf "T" itu singkatan dari Taat. Taat di sini yang dimaksud ialah taat pada aturan. Jadi guru harus taat pada aturan, siswa harus taat pada aturan, karyawan harus taat pada aturan, begitu juga seorang Kepala Sekolah harus taat pada aturan. Kalau ini berjalan sesuai tupoksinya, Insha Allah semua akan beres. Jadi harus taat. Karena jika tidak, maka aka nada sanksi. Imbasnya juga luas, akan ada pihak yang dirugikan. Sebenarnya taat ini tak hanya berlaku di sekolah, di jalan juga harus taat pada aturan rambu-rambu lalu lintas. Karena jika tidak, maka sanksinya bisa ditilang, belum lagi ketika malah orang lain jadi korban, karena ketidak taatan seseorang pada aturan, misalnya menerobos lampu merah dan menimbulkan kecelakaan,”urainya.
Huruf “O” menurut Kepala MTs Negeri Tarate ini berarti optimis. Sebuah lembaga memang harus dituntut optimis dalam segala hal. Jadi, jangan sampai mundur. Sedangkan huruf yang terakhir yaitu “P” itu disebutnya adalah singkatan dari persatuan.
“Jadi kita harus bisa menjalin kebersamaan dan kekompakan. Kekompakan ini perlu kita jalin, karena seberat apapun pekerjaan itu kalau dipikul bersama, tentu akan lebih mudah. Semuanya harus bisa bekerja sama sesuai dengan tupoksinya masing-masing. Harus diingat, awal dari kehancuran ialah bercerai berai. Jadi persatuan ini harus terus dipupuk. Jadi ini harus menjadi modal atau resep, dengan menerapkan TOP maka kita bisa menjadi top,”tutupnya sambil tersenyum. ( Farhan, Esha )