News Room, Jumat ( 15/04 ) Universitas Wiraraja atau kampus Cemara memasuki babak baru dalam seperempat abad lebih perjalanannya. Kampus ini tengah dipersoalkan masalah kepemilikan aset dan keabsahan Yayasan yang menaunginya.
Namun, kita lepas dulu sejenak mengenai persoalan yang dimunculkan dan menerpa Universitas satu-satunya di Sumenep ini. Dari sini, sejenak flash back, saat timbul ide pertama dimunculkannya salah satu pusat transfer ilmu modern di Kabupaten paling timur di Nusa Madura ini.
Bagi sebagian besar masyarakat Sumenep, secara umum dikenal bahwa Unija didirikan oleh Soegondo yang saat itu menjabat sebagai Bupati Sumenep (periode 1985 – 1995). Namun secara historis yang sifatnya interpretasi umum, hanya sedikit orang yang mengetahui dengan baik bahwa ada sosok yang lebih berperan dalam membidani lahirnya Unija. Orang itu ialah Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Kandepdikbud) Kabupaten Sumenep di masa tersebut, yaitu H. A. Said Hidayat.
"Tanpa menafikan peran tokoh-tokoh lainnya, terutama Pak Gondo panggilan akrab Soegondo, peran Said Hidayat sangat penting, yakni penggagas awal. Gagasan ini ditangkap Said pasca lahirnya Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) untuk mendorong program pembangunan sejuta Sekolah Dasar," kata H. Kurniadi Widjaja, Ketua Umum Yayasan Aria Wiraraja, pada Media Center.
Menurut Kurniadi, bersumber dari buku “Seperempat Abad Perjalanan Unija”, disebut bahwa pada tanggal 2 Mei 1986, selepas mengikuti upacara Hardiknas, Said mengundang sejumlah koleganya untuk membahas gagasannya tersebut. Awalnya, ide nama yang disuguhkan ialah Universitas Nusa Wiyata. Dari sinilah rencana ini kemudian mengalir.
"Dan, secara garis besarnya begini, ide muncul dari Said yang dituangkan dalam sebuah perbincangan serius dan mendapat dukungan penuh dari orang nomor satu di Sumenep. Ide nama berasal dari Said yaitu Universitas Nusa Wiyata, yang pada perkembangan lebih lanjut diubah dengan usul salah satu kolega, Muhammad Hafid, yang memberi pertimbangan nama dengan menggunakan nama-nama raja Sumenep. Pilihanpun jatuh pada Wiraraja, yang selanjutnya menjadi nama kampus ini," tambah Kurniadi panjang lebar.
Lalu masuk pada logo dan hymne, menurut Kurniadi ditugaskan pada Baraja, salah satu guru SMAN Sumenep. Rumusan statuta dibuat Said. Sementara peran membentuk staf tenaga pengajar diberikan pada Kurniadi sendiri dengan memanfaatkan jaringan sesama alumni IIP (Institut Ilmu Pemerintahan) Depdagri RI.
"Setelah dirasa lengkap, para pendiri termasuk bupati Sumenep Soegondo bertolak ke Jakarta menemui Wahono, Ketua DPP Golkar saat itu. Melalui Wahono, para pendiri difasilitasi ke Dirjen Dikti, bahkan Wahono sendiri yang menelpon sang Dirjen saat itu," tambahnya.
Singkat kata Unija pun berdiri dan awalnya dipusatkan di Gedung SKB (Sanggar Kegiatan Bersama), sebelum akhirnya menempati lokasi kampus saat ini. Lokasi kampus di Desa Patean ini merupakan bekas tanah percaton (kas) Desa Kebunagung dengan status hak pakai yang diperpanjang setiap 25 tahun sekali, terhitung dari terbitnya Sertifikat tanah pada tahun 1999. ( Farhan, Fer )