News Room, Senin ( 19/12 ) Penderitaan warga tidak mampu kian parah, akibatnya beredarnya beras untuk rakyat miskin (raskin) bercampur nasi aking dan beras jagung di Sumenep. Hal itu terjadi disejumlah tempat diantaranya di Dusun Morassen, Desa/Kecamatan Pasongsongan. Beras yang diterima para penerima manfaat itu tidak layak untuk dimakan, karena selain bau apek, juga cepat basi. Salah satu warga Dusun Morasen, Desa/Kecamatan Pasongsongan, Sri Wahyuni mengatakan, pihaknya menebus raskin itu pada Jumat (16/12) lalu, dari aparat Desa dalam keadaan terbungkus rapi dengan sak berlebel Bulog seperti biasanya. Dan tidak terlihat ada bekas perubahan jahitan sak. Namun, setelah dibuka ternyata ditemukan ada campuran nasi aking (sisa-sisa nasi yang tak termakan yang dikeringkan di terik matahari) dan beras jagung. “Beras raskin yang diterima saya bercampur sisa-sisa makanan yang dikeringkan. Perbandingannya, kira-kira 60 persen beras asli. 30 persen aking dan 10 persen beras jagung,”kata Sri Wahyuni pada wartawan dirumahnya, Senin (19/12). Menurutnya, raskin yang dibelinya itu sempat dimasak, namun tidak tahan seperti nasi pada umumnya. Sekitar 1 jam setelah dimasak atau sudah dalam keadaan dingin, menjadi nasi basi. “Saya beli dua sak untuk dua kepala keluarga seharga Rp. 54.000,00. Jadi, per saknya yang berisi 15 kilogram itu seharga Rp. 27.000,00. Tapi beras tersebut tidak bisa dimakan. Saya tidak berani melapor. Buat apa juga, tidak mungkin diperhatikan,”terangnya. Sementara, Koordinator Lapangan Raskin, Bulog Sumenep, Ainul Fatah mengaku sangat kecewa dengan beredarnya kabar mengenai adanya raskin kualitas jelek. Padahal, hasil kroscek ketingkat Kecamatan semuanya menyatakan tidak ada masalah. “Tapi ini kok tiba-tiba muncul kabar zak raskin jelek. Sudah berkali-kali kami sampaikan, kalau memang raskin yang diterima warga itu benar-benar jelek, tolong kembalikan pada Bulog, kami siap menggantinya,”ujar Ainul. Dia juga menegaskan, pihaknya akan memastikan keberadaan raskin yang bercampur nasi aking dan beras jagung itu. “Kami akan koordinasi lagi dengan pihak Kecamatan dan Desa,”ungkapnya. Ungkapan serupa juga dilontarkan Kepala Bagian Perekonomian, Pemkab Sumenep, Drs. H. Syaiful Bahri, M.Si. “Kami baru dengar tentang raskin bercampur nasi aking dan jagung. Sebab, yang kami dengar selama ini hanya kualitasnya kurang baik saja,”paparnya. Untuk mengetahui kebenarannya, kata H. Syaiful, pihaknya sudah menghubungi Camat Pasongsongan melalui telepon genggamnya, supaya mengkroscek kelapangan terkait informasi raskin jelek tersebut. “Jangan sampai menipisnya stok beras, dijadikan pembenar dalam pendistribusian. Kualitas raskin harus tetap diperhatikan,” ( Nita, Esha )