News Room, Sabtu ( 27/07 ) Warga Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, menolak rencana PT. Sumekar Line Sumenep, operator Kapal Dharma Bahari Sumekar (DBS)1 untuk menaikkan tarif pelayaran. Salah satu warga Desa Pajenangger, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, Surahrawi, menilai, rencana kenaikan tarif Kapal DBS itu hanya kepentingan perusahaan saja, karena belum sepantasnya tarif dinaikkan. "Saat ini kondisi perekonomian warga Kepulauan tengah sulit, sehingga akan semakin memberatkan apabila tarif kapal naik. Bagi kami, rencana kenaikan tarif kapal DBS tidak manusiawi,"tandasnya. Menurutnya tarif kapal DBS tidak perlu dinaikkan, sebab jika dilihat dari jumlah penumpang ke Kepulauan, khususnya Kangean, setiap beroperasi tidak pernah sepi. Pihaknya tidak yakin PT. Sumekar Line merugi dalam mengoperasionalkan Kapal DBS. "Datanya ada kok. Setiap berlayar jumlah penumpang ke Kangean itu ramai. Baik orang maupun barang. Bahkan, terkadang mencapai 300 orang lebih. Nah, dari sisi mana merugi ?,"tuturnya. Oleh karena itu, Surahrawi menuntut agar PT. Sumekar Line meningkatkan pelayanan terhadap penumpang, dari pada memikirkan menaikkan tarif kapal. Sebab, kapal DBS I yang selama ini dioperasikan, dinilai tidak layak berlayar ke Pulau. "Kondisi kapalnya itu sering rusak. Misalnya di pintu anjungan, air sering masuk. Lha bukannya ada perbaikan koq malah tarif mau dinaikkan,"tegasnya. Sebelumnya, management PT. Sumekar Line berkirim surat ke DPRD Sumenep yang berisi pemberitahuan pemberlakuan kenaikan tarif kapal DBS per 7 Agustus 2013. Dalam surat tersebut, kenaikan tarif kapal yang diberlakukan untuk penumpang dewasa dari Rp. 56.500,00 menjadi Rp. 91.000,00. Penumpang anak-anak dari Rp. 37.500,00 menjadi Rp. 65.000,00. Kemudian tarif tiket untuk sepeda motor, dari Rp. 52.500,00 menjadi Rp. 83.000,00. Sedangkan mobil, dari Rp. 467.500,00 menjadi Rp. 731.000,00. Direktur PT. Sumekar Line, Rasul Djunaidi mengaku terpaksa menaikkan tarif, demi menyelamatkan perusahaan. Hal itu mengingat biaya operasional terus naik, seiring dengan naiknya harga BBM. Sementara pihaknya belum pernah melakukan penyesuaian tarif selama 4 kali kenaikan harga BBM. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan antara biaya operasional dan pemasukan. Apalagi jika dibandingkan dengan pelayaran lain yang berjarak lebih pendek seperti Gresik-Bawean, Kalianget-Jangkar, tarif Kapal DBS jauh lebih murah. "Makanya kami nekat menaikkan tarif, demi menyelamatkan perusahaan milik daerah ini. Kami sudah siap didemo. Mau dipanggil dewan, kami juga siap. Kami sudah tidak punya pilihan lain. Tarif kapal ke Kangean harus naik,"ungkapnya. ( Nita, Esha )