News Room, Selasa ( 26/08 ) Untuk meningkatkan pengetahuan petani soal kwalitas garam dan hasil garam, khususnya di Kabupaten Sumenep, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Penananman Modal Kabupaten Sumenep bekerjasama dengan UNICEF menggelar pelatihan dan pembinaan bagi petani garam di Sumenep. Pelatihan yang diikuti 40 orang, terdiri dari, 10 orang dari Kecamatan Gapura, 25 dari Kecamatan Kalianget dan 5 orang dari Kecamatan Saronggi. Kepala Seksi Pembinaan dan Pengembangan Industri Kecil, Home Industri dan Agro Industri Disperindag Sumenep, Usman ketika ditemui di sela-sela pelatihan di Aula Kantor Bappeda Sumenep mengungkapkan, jika pembinaan memang penting diberikan kepada para petani garam, agar mereka lebih mengetahui tentang tata usaha niaga garam. “Saat ini stok garam Indonesia masih kekurangan, dan masih membutuhkan garam impor sekitar 290.000 ton, dan itu berarti ada penambahan dari tahun 2007 lalu yang mengimpor sekitar 200.000 ton garam,â€Âujar Usman. Sebab selama ini menurut Usman, seringkali petani tergesa-gesa untuk mengambil garam, padahal itu akan merugikan petani garam. Karena kwalitas garam juga tidak akan maksimal sesuai yang diinginkan dan mempengaruhi harga garam. Karena itu, Usman minta petani tidak perlu terburu-buru untuk segera mengambil garamnya sebelum cukup waktu. Dari disisi harga, ada kenaikan harga garam, misalnya untuk kwalitas K-1 seharga Rp. 325,00/ton, dan K-2 seharga Rp.250,00/ton, sedangkan mutu produksi sesuai penelitian dari Balai Penelitian di Semarang, garam rakyat muncul NACR sekitar 89-90 dan K-1 sekitar 94-96 kadar garam. Sementara untuk Kabupaten Sumenep cukup berpotensi banyak di K-1, di prediksi hasil garam dari petani sekitar 120.000 ton dan dari lahan milik PT. Garam sekitar 320.000 ton. ( Ren, Esha )