Media Center, Rabu ( 15/03 ) Setelah Raden Banjir alias Pangeran Adipati Suryokusumo wafat, tongkat estafet seni beladiri Langkah Empat jatuh pada salah satu putranya, yaitu Raden Ario Abdul Ma afi Sasradiningrat, atau Ja Sasra. Ja Sasra disebut mewarisi semua keahlian ayahnya, bahkan dianggap melebihi ayahnya.
“Beliau dikenal sebagai pendekar yang mumpuni. Tidak hanya sekadar seni beladirinya, namun juga lengkap dengan kanuragan atau dalamnya,”kata RP. M Mangkuadiningrat, salah seorang pemerhati sejarah di Sumenep, dan sekaligus cicit Raden Banjir, pada Media Center.
Di masa beliau ini, dalam sejarah dan riwayat lisan atau pitutur sesepuh Keraton Sumenep, seni beladiri Langkah Empat disebut benar-benar disegani oleh kawan maupun lawan. Banyak pesilat, pendekar, atau ahli bela diri dari luar Sumenep yang takluk pada Ja Sasra, hingga berguru padanya. Ja Sasra juga dikisahkan pernah diundang oleh Keraton Jogjakarta.
“Saat memperagakan jurus langkah empat, beliau membuat banyak orang takjub. Pasalnya, saat beliau berposisi miring, konon bumi di sana juga ikut miring,” kata Mangku.
Menurut cerita RP Zainal Abidin Amir, salah satu keponakan Mangkuadiningrat, Ja Sasra dikenal dengan kecepatan gerakan tubuhnya. Pernah di usianya yang sudah sangat sepuh, beliau mencoba salah satu keponakannya. Sang keponakan disuruh menusuk perut beliau dengan keris dalam jarak kurang dari 40 centimeter. “Namun meski dengan tenaga kuat dan gerak cepat, keris yang ditusukkan itu bahkan tak mampu menyentuh baju Ja Sasra,”kata Zainal.
Sepeninggal Ja Sasra, yang di masa tuanya menempuh jalan tashauf, seni beladiri Langkah Empat dilanjutkan oleh anak cucu dan kerabat dari keluarga Keraton Sumenep. Tokoh-tokoh yang dikenal sebagai ahli beladiri langkah empat ini di antaranya kedua putra Ja Sasra, yaitu R. Ario Cokrodiningrat, dan R. Ario Saccadiningrat. Lalu juga keluarga besar R. Ario Mertonegoro (salah satu cucu Sultan Abdurrahman), keluarga besar Pesantren Loteng Pasarsore, dan lain-lain.
“Seni beladiri langkah empat tumbuh dan berkembang di keluarga besar Keraton Sumenep hingga pasca kemerdekaan. Dan sempat menjadi sebuah organisasi bernama Ganefo di masa Orde Lama. Meski begitu ada juga sebagian pihak di luar keluarga keraton yang mempelajarinya. Namun, kemudian mereka mengkombinasikan dengan seni beladiri lain. Sedang yang tetap menguasai dasar atau aslinya banyak yang tidak melakukan regenerasi atau tidak mengambil murid, sehingga lambat-laun seni beladiri ini hampir punah,”ungkap Mangku.
Seperti yang diketahui, seni beladiri langkah empat merupakan buah karya Raden Banjir alias Pangeran Adipati Suryokusumo. Seni beladiri ini di jaman lampau merupakan seni tarung yang langka. Gerakannya terpusat pada area bujur sangkar imajinatif yang setiap sisinya kurang dari satu meter. Para ahli beladiri ini biasanya selalu memakai sarung dan tutup kepala. ( M Farhan, Esha )