News Room, Jumat ( 20/ 05 ) Kurang dari sebulan, Ramadlan tiba. Bulan Ramadlan merupakan bulan yang paling istimewa bagi umat Islam. Berbagai peristiwa penting agama yang dibawa Insanul Kamil, Sayyidina wa Habibina Muhammad SAW ini terjadi di bulan Ramadlan. Salah satunya ialah turunnya wahyu pertama sekaligus turunnya rujukan terbesar umat Islam, Al-Quranul Karim. Tak hanya itu, berbagai keutamaan dalam setahunnya, terutama yang terkait dengan ladang pahala juga hampir seluruhnya terkumpul dalam Ramadlan.
Dalam perkembangan lebih lanjut, menyambut kedatangan Ramadlan menjadi sebuah tradisi yang kemudian mengakar dalam kehidupan umat Islam. Di berbagai belahan bumi, tak terkecuali di Indonesia yang majemuk masyarakatnya, tradisi menyambut datangnya bulan Ramadlan menjadi semacam hukum yang tak tertulis. Meski berbeda-beda, tapi esensinya sama; mengikuti sunnah Rasul SAW dalam memuliakan Ramadlan. Seperti di Sumenep Madura misalnya, ada beberapa tradisi penting menyambut bulan seribu bulan ini. Baik yang masih terus dilestarikan maupun yang sudah mulai terkikis arus jaman
Dalam hal kuliner, Sumenep memang kaya ragam dan kekhasan. Warga Sumenep juga begitu antusias menyambut berbagai momen dengan masakan khas, sehingga tak heran jika menjelang masuk bulan Ramadlan maupun di bulan Ramadlan, kegiatan masak-memasak ber-jam terbang tinggi. Namun bedanya, kegiatan ini lebih sarat pada aksi sosial. Tradisi yang biasa dikenal sebagai budaya ter-ater atau arebbha menjelang masuk bulan Ramadlan.
“Biasanya warga itu memasak menu makanan yang selanjutnya diberikan pada tetangga sekitar, sanak famili, kaum fakir miskin, maupun anak yatim,”kata salah satu warga Sumenep asal desa Pamolokan, Deny Fahrurrazi, pada Media Center.
Ter-ater atau arebbha ini sejatinya bukan istilah yang baku. Istilah lainnya ialah selamatan atau dalam bahasa agama ialah shadaqah yang diadopsi menjadi kata sedekah. Tradisi ini terus hidup hingga saat ini dalam berbagai tingkat masyarakat, sehingga tak salah jika kesannya seperti tukar-menukar makanan antar warga suatu kampung atau Desa.
Di tempat lain di belahan Bumi Sumenep, mekanisme arebbha yang berbeda merupakan hal biasa. Seperti di kawasan pedesaan misalnya. Masyarakat di sana memiliki teknis tersendiri.
“Kalau di Desa saya, arebbha itu dengan memasak makanan yang enak dan diantar ke mushalla-mushalla,”kata Nurhasanah, warga Desa Pore, Kecamatan Lenteng.
Dalam menyambut Ramadlan, warga Sumenep begitu semarak. Sehingga untuk melihat pemandangan kolektif memperbarui keadaan tempat tinggal atau rumah, hanya bisa saat menjelang masuknya bulan suci ini.
“Ya, seperti mengecat, menambal tembok yang pecah atau retak, atau juga termasuk mengganti properti rumah yang sudah rapuh, dan lain sebagainya,”kata Dafifah, warga Desa Ambunten Tengah, Kecamatan Ambunten.
Pemandangan serupa juga bisa ditemui di tempat-tempat ibadah. Seperti mushalla, langgar, dan apalagi masjid. Lokasi-lokasi yang di saat bulan Ramadlan begitu dipadati oleh warga, terutama di saat-saat menjelang, buka puasa, shalat tarawih, atau pasca sahur. ( Farhan, Esha )