Media Center, Selasa (10/08) Pusaka, khususnya yang
berbentuk tosan aji, seperti keris dan tombak, memiliki tempat khusus dalam
kebudayaan Madura. Secara historis, pusaka –pusaka tersebut berfungsi sebagai
senjata dalam peperangan, maupun aksesoris yang sarat makna filosofis.
Karena melalui proses yang tidak sama dengan sekadar membuat
senjata tajam biasa, keris atau tombak diperlakukan secara khusus. Termasuk dalam
hal merawatnya.
Tradisi yang berkembang di Madura, ritual merawat pusaka
tosan aji, dilakukan dengan cara membersihkannya. Dalam prakteknya,
membersihkan pusaka bisa setiap saat, namun ada waktu khusus yang diyakini
secara turun-temurun merupakan waktu yang bagus yang diatur melalui ritus. Seperti
prosesi jamasan pusaka di tanggal 1 Sura atau 1 Muharram dalam penanggalan
Hijri.
“Dalam tradisi lama, yang sebagian masih dijalankan saat ini
ialah membasuh dan membersihkan keris,” kata RB Muhlis, salah satu pemerhati
sejarah di Sumenep.
Sarana yang dipakai ialah air yang didalamnya terdapat
kembang-kembang khusus. Seperti kembang tujuh rupa. Lalu diasapi dengan dupa
atau kemenyan, sebelum kemudian diolesi minyak berbahan dasar tumbuh-tumbuhan.
“Tidak dianjurkan dengan minyak berbahan hewan,” tambah
Muhlis.
Tradisi tersebut dahulu hidup di lingkungan keraton sebagai
kalangan yang tidak bisa dipisahkan dengan pusaka tosan aji. Meski belum
didapat bukti otentik tentang ritus jamas pusaka keraton di masa lalu. Kecuali informasi
lisan dari kalangan keluarga bangsawan yang masih menjaga tradisi.
“Merawat pusaka merupakan tradisi para pendahulu, sebagai
bentuk kepedulian terhadap karya lelulur dan penghormatan pada pendahulu. Dengan
dirawat, tentu pusaka-pusaka ini akan terus ada dan bisa menjadi bahan
pelajaran penting bagi generasi penerus,” kata RB Fahrurrazi, salah satu
pemerhati tosan aji di Sumenep.
(Han)