News Room, Selasa ( 13/01 ) Keinginan petani garam untuk mengalih fungsikan hutan bakau menjadi lahan garam, di Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, ternyata ditolak oleh Pemerintah Kabupaten Sumenep, melalui Dinas PU. Pengairan. Sebab, alih fungsi lahan itu dinilai akan merusak ekosistem dilokasi itu, apalagi hutan bakau tersebut merupakan satu-satunya penangkal luapan air dari sungai setempat. Ceritanya, 7 orang petani garam, asal Desa Nambakor, mengajukan ijin alih fungsi lahan hutan bakau menjadi lahan garam, kepada Dinas PU. Pengairan. Namun, pengajuan itu ternyata tidak sependapat dengan keinginan warga Desa Nambakor lainnya, termasuk Kebundadap Barat, Saronggi dan Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget. Akhirnya, terjadi polemik antar warga pelindung hutan bakau dengan petani garam. Menurut Kepala Desa Pinggir Papas, Abd. Hayat, sebenarnya yang mengajukan alih fungsi lahan itu hanya sebagian kecil petani garam saja. “Tapi, kami sebagai petani garam yang ikut melindungi lahan bakau itu tidak terima alih fungsi lahan itu. Dikarenakan, jika itu terlaksana, akan terjadi penyempitan hutan bakau,â€Âujarnya. Bahkan, dikhawatirkan kalau alih fungsi itu betul-betul dilakukan, mata pencaharian warga Desa Nambakor akan hilang. Selama ini, biasanya pada awal musim hujan, hutan bakau itu dijadikan tempat untuk mencari bibit udang. Jadi, kalau dialih fungsikan ke lahan garam, otomatis hutan itu akan berkurang. Dan, dipastikan kalau turun hujan akan terjadi banjir, sebab tidak ada penyangkal luapan sungai. Sementara, Kepala Dinas PU Pengairan Kabupaten Sumenep, Ir. Moh. Jakfar, mengaku menolak ijin yang dilayangkan petani garam untuk mengalih fungsikan hutan bakau ke lahan garam. “Kami menolak ijin, karena keinginan itu sangat tidak wajar, apalagi hutan bakau itu merupakan satu-satunya penyangkal luapan air dari sungai,â€Âkatanya. Moh. Jakfar mengaku akan mengembalikan fungsi lahan seperti semula. Artinya, tidak ada alih fungsi lahan berupa apapun. Itu demi melindungi hutan bakau dan keselamatan warga Desa Nambakor dan sekitarnya. ( Nita, Esha )