Media Center, ( 22/02 ) Meskipun jagung hibrida menjadi prioritas hasil produksi jagung di
Kabupaten Sumenep, namun jagung lokal tidak akan ditinggalkan sebagai
kearifan lokal daerah, karena jagung tetap menjadi makanan pokok
masyarakat Madura, khususnya Kabupaten Sumenep.
Kepala Dinas
Pertanian, Hortikultura dan Perkebunan (Dispertahortbun) Kabupaten
Sumenep, Ir. Bambang Heriyanto, M.Si, Kamis (22/02) mengungkapkan, di
Sumenep tetap mempertahankan kearifan jagung lokal, meskipun jagung
hibrida menjadi prioritas tanam jagung tahun ini.
“Sumenep tetap
akan mempertahankan kearifan jagung lokal meskipun jagung hibrida
menjadi prioritas tanam jagung tahun ini, yakni dengan persentase 40
jagung lokal, dan 60 persen jagung hibrida,”jelasnya kepada wartawan.
Meskipun tetap mempertahankan jagung lokal, namun Dispertahortbun
Sumenep juga tetap mencari lokasi dan calon petani yang berminat menanam
jagung hibrida tanpa paksaan. Apalagi Dinasnya sudah melakukan
kemitraan jagung hibrida dengan 4 stakeholder, yaitu perusahaan benih,
pupuk, perbankan dan offteker.
Karena itu tegas Bambang, untuk
meningkatkan kesejahteraan petani jagung di Sumenep, maka
pada musim tanam tahun 2018 ini akan menargetkan produksi jagung 6 ton
per-hektar dari hasil sebelumnya yang menghasilkan 23.000 hektar.
“Dengan meningkatnya produksi jagung di Sumenep, tentunya juga akan
meningkatkan ekonomi petani dan tanpa meninggalkan kearifan jagung lokal
Sumenep,” pungkasnya. ( Ren, Esha )