Media Center, Minggu ( 13/09 ) Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk menggerakan masyarakat muslim melakukan tradisi mengaji setelah Maghrib baik di masjid-masjid, mushola dan langgar atau di rumah, meluncurkan program Kampung Ngaji.
“Kampung Ngaji ini lahir dari keprihatinan terhadap situasi di tengah masyarakat saat ini, karena ada pergeseran nilai budaya dan kultur akibat semakin derasnya perkembangan teknologi informasi,” kata Bupati Sumenep, Dr. KH. A. Busyro Karim, M.Si pada Peresmian Kampung Ngaji di Perum Griya Mapan Desa Kacongan, Minggu (13/09/2020) malam.
Masyarakat muslim Sumenep biasanya mengisi ruang keluarga dengan kegiatan mengaji sehabis sholat maghrib, bahkan anak-anak sejak sore sudah mendatangi langggar atau mushola untuk sholat berjamaah sekaligus mengaji.
Tetapi, tradisi itu telah terjadi pergeseran aktivitas sebelum atau sesudah Magrib seperti kegiatan menonton acara televisi, bermain telepon genggam dan update status di media sosial.
“Sebagai upaya menjawab kondisi perubahan itu memerlukan solusi yang konstruktif dengan menghidupkan kembali tradisi mengaji setelah Magrib melalui Kampung Ngaji yang dilakukan oleh guru ngaji setempat,” imbuh Bupati dua periode ini.
Bupati berharap, partisipasi masyarakat dalam rangka menghidupkan kembali tradisi mengaji setelah Magrib untuk anak-anaknya baik di masjid, langgar dan mushola, sehingga mampu memperkuat kultur anak-anak mengaji baik siswa SD maupun SMP.
“Mudah-mudahan, kampung ngaji memperkuat tradisi anak-anak untuk rajin mengaji meskipun usianya bukan siswa Sekolah Dasar (SD), karena akhir-akhir ini anak-anak merasa telah selesai belajar ngaji setelah lulus SD,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Sumenep mengawali program Kampung Ngaji di Perum Griya Mapan Desa Kacongan Kecamatan Kota Sumenep, ditandai dengan penyerahan Al-Quran serta penandatanganan prasasti oleh Bupati Dr. KH. A. Busyro Karim, M.Si bersama Ketua Kampung Ngaji Griya Mapan KH. Moh. Faqih.
Bupati mengungkapkan, sasaran kampung ngaji adalah desa atau kampung di Kabupaten Sumenep secara bertahap, tetapi prioritasnya yakni desa atau kampung yang benar-benar tidak ada kegiatan ngaji setelah magrib.
“Kami untuk merealisasikan program kampung ngaji tentu saja tidak perlu membetuk lembaga baru, tetapi bersama pemerintah desa memperkuat dan meningkatkan kegiatan masjid atau mushola, agar mengajari anak-anak belajar ngaji setelah magrib,” tandasnya.
Sementara Ketua Kampung Ngaji Perum Griya Mapan, KH. Moh. Faqih mengungkapkan, warga perum Griya Mapan telah melakukan kegiatan mengaji setelah Magrib termasuk hafalan Al-Quran bagi anak-anak, sejatinya telah dilakukan sejak tahun 2010 lalu, bahkan termasuk peringatan hari-hari besar Islam lainnya.
“Tentu saja dengan peresmian Kampung Ngaji menambah semangat warga perumahan untuk meningkatkan mengaji dengan membuat program baru,” pungkasnya. ( Yasik, Fer )