Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 15-08-2009
  • 993 Kali

Terumbu Karang Di 3 Pulau Rusak Dan Terancam Punah

News Room, Sabtu ( 15/08 ) Perkembangbiakan terumbu karang di wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep, semakin memburuk. Sebab, di 3 pulau tak berpenghuni yang berlokasi di sebelah utara Pulau Sapeken, terumbu karang rusak dan terancam punah. Salah seorang warga pulau Sapeken, Nur Asyur mengatakan, bahwa kondisi terumbu karang dilokasi tersebut, sangat memprihatinkan. Faktor terbesar penyebab rusaknya pertumbuhan terumbu karang itu, yakni maraknya penggunaan potasium atau bahan peledak (handak) saat menangkap ikan. ”Hampir tiap hari kami mendengar suara dentuman bom dari potasium yang digunakan para nelayan. Apalagi, diposisi pulau tak berpenghuni disebelah utara pulau Sapeken. Para nelayan melihat, terumbu karang diwilayah tersebut sudah banyak yang hancur,”terangnya. Nur Asyur, yang juga anggota DPRD asal pulau Sapeken itu menjelaskan, banyaknya terumbu karang yang rusak, pihaknya berharap pada Pemerintah Kabupaten, supaya memperhatikan hal itu. Sebab, laut merupakan ekosistem mata pencaharian masyarakat pulau Sapeken. “Kalau terumbu karang sudah hancur dan rusak, bagaimana ikan bisa berlindung untuk beranak pinak. Dan, otomatis mata pencaharian masyarakat pulau Sapeken juga akan terhambat,”ungkapnya. Sementara, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sumenep, Ir. Salimin Saat Wachdin, MM membenarkan, bahwa pertumbuhan terumbu karang di pulau tak berpenghuni itu rusak. Penyebabnya memang maraknya penggunaan handak. ”Kami sudah berulang kali meminta kepada para nelayan, yang mengetahui teman ataupun familinya yang menggunakan handak saat menangkap ikan, supaya dilarang. Selain, merusak lingkungan, juga akan menyebabkan terumbu karang rusak,”ujarnya. Ia menjelaskan, pertumbuhan terumbu karang ini dalam satu centimeter saja, memerlukan waktu selama satu tahun. ”Nah, kalau sudah sekali dibom, otomatis terumbu karang rusak dan tidak bisa berkembang lagi. Padahal, terumbu karang itu merupakan tempat perkembang biakan ikan,”katanya menambahkan. Selama ini, kata Salimin, pihaknya dalam meminimalisir penggunaan handak, sudah melakukan pembinaan maupun penyuluhan. Bahkan, dikawasan tersebut sudah dibentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), yang tujuannya mengajak masyarakat yang peduli atas lingkungan untuk ikut mengawasi laut dari penggunaan handak. ”Tapi, meski demikian, tetap saja handak masih digunakan oleh para nelayan. Kami tidak bisa berbuat lebih banyak lagi, selain mengawasi, karena keterbatasan personel,”terangnya. ( Nita, Esha )