News Room, Selasa ( 19/08 ) Tidak selesainya pembangunan Balai Desa Tembayangan Kecamatan Kangayan Kepulauan Kangean Sumenep, diakui Kepala Desa Temabayang, Abd. Hayat karena kondisi alam dan teknis yang tidak memungkinkan selesai sesuai waktu dan standar pembangunan balai desa yang diharapkan. Menurut Hayat, kendala yang paling vital memang karena kondisi alam. Yakni yang pertama pada saat pencairannya ditahun 2007 lalu bertepatan dengan musim hujan. Sehingga kondisi jalan dari Kecamatan Arjasa ke Kecamatan Kangayan becek dan sulit dilewati transportasi untuk mendatangkan bahan meterial kesana. Kemudian secara beruntun dua jembatan penghubung di Kecamatan Kangayan, yakni jembatan Kerakok dan jembatan Junil ambruk, sehingga tidak bisa dilewati mobil angkutan. '“Saya tidak bermaksud menunda pembangunan balai desa, namun kondisinya memang begitu. Jadi saya minta maaf kepada Bupati Sumenep, karena saya memang sudah diberi peringatan untuk menyelesaikan pembangunan balai itu,†ujar Hayat. Bahkan sekarang Hayat mengaku sudah menghabiskan anggaran sekitar 30 juta untuk pondasi dan sebagian material yang dipersiapkan untuk pembangunan balai. Hanya saja menurut Hayat untuk anggaran Rp. 50 juta dirasa masih belum cukup karena harga material yang biasanya di Kecamatan. Arjasa Rp.150 ribu ke Desa Tembayangan bisa mencapai Rp.500 ribu, dengan jarak sekitar 20 km yang melewati naik turun gunung. Karena itu pihaknya mengaku akan mengajukan tambahan anggaran apabila bisa. Namun jika tidak bisa terpaksa akan dibangun dengan cara bertahap hingga selesai. Ditanya kapan balai desa itu selesai Hayat belum bisa menentukan. Namun yang jelas pihaknya akan terus berusaha, semoga jembatan yang rusak segera selesai diperbaiki, sehingga material bisa didatangkan ke desanya. (Ren, Adjie)