News Room, Kamis ( 07/05 ) Latar belakang pendidikan, jelas mempengaruhi pola pikir seseorang. Tak terkecuali salah satu tokoh agama kharismatik Sumenep asal Desa Jambu Kecamatan Lenteng, KH. Taufiqurrahman FM. Obsesinya membangun sebuah lembaga pendidikan ala Pondok Modern Gontor Ponorogo, diwujudkan meski harus bersusah payah.
“Ya, dengan modal ilmu yang secuil, dan dukungan dana yang minim,”kata pengasuh PP Mathlabul Ulum, Jambu ini sambil merendah, pada News Room.
Perjuangan Kyai Taufiq memang tidak instan. Apalagi ia bukan asli Desa Jambu. Secara genealogi, beliau merupakan keturunan Kyai Ruham, Pamekasan dan juga keturunan Kyai Idris, Patapan, di daerah Pragaan Sumenep.
Kyai Ruham dikenal sebagai leluhur para kyai di daerah Pamekasan, Sumenep, dan di daerah tapal kuda, Jawa Timur. Sebut saja KHR As ad Syamsul Arifin (Sukorejo, Situbondo) dan KH. Zaini Mun im (Paiton, Probolinggo) sebagai 2 diantara anak cucu Kyai Ruham.
Sementara Kyai Idris Patapan, dikenal sebagai cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, dan Pondok Pesantren An-Nuqayah, Guluk-guluk, dan beberapa pesantren lain di wilayah selatan Sumenep; serta juga sebagian di Pamekasan hingga beberapa daerah di tapal kuda.
“Proses awal berdirinya pesantren ini, bisa dikatakan dimulai sejak hari pernikahan saya di tahun 1978. Itu sekaligus juga awal mula saya menjadi warga daerah ini,”kata pria kelahiran Sumenep, 25 November 1955 ini.
Di Jambu, Kyai Taufiq merupakan menantu Kyai Haji Asnawi Imam, Jambu, salah satu ulama kharismatik Sumenep. Kyai Asnawi ini adalah salah satu putra Kyai Imam bin Mahmud, pendiri Pondok Pesantren Al-Karawi, Karay Ganding. Salah satu putri Kyai Asnawi, yakni Nyai Hajjah Ulfah Umamiyah adalah isteri pertama Kyai Taufiq.
Kembali kepada proses pendirian pesantren, tak berapa lama setelah menikah, Kyai Taufiq langsung mendirikan Madrasah Diniyah (MD).
“Itu sehari setelah saya menikah. Ya, karena masih awal, tentu tempatnya masih di area dhalem Kyai Asnawi. Saat itu saya mengajar sendiri,”katanya.
Selang berapa tahun, tepatnya tahun 1983, Kyai Taufiq mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Padahal waktu itu tepat saat dirinya baru mendapat musibah kecelakaan yang mengakibatkan patah tulang. Namun hal itu tak mengurangi semangat kiyai lulusan Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo ini.
“Sekitar kurang lebih satu tahun saya tetap mengajar sambil bertongkat,”kenangnya. Tak berapa tahun kemudian, di tahun 1985, Kyai Taufiq mendirikan Madrasah Aliyah (MA).
Lokasi kedua madrasah tersebut pindah ke selatan dari kediaman Kyai Asnawi. Hal itu dikarenakan lokasi yang baru dipandang oleh Kyai Taufiq lebih strategis.
“Kebetulan lahannya merupakan hibah dari salah satu warga,”tambahnya. Namun, meski sudah memiliki lembaga pesantren sekaligus lembaga pendidikan formal dari jenjang MD hingga MA, masih belum membuat Kyai Taufiq puas. Beliau melihat perkembangan pengetahuan siswa masih belum maksimal. Hal itu disebabkan para siswa sekaligus santri tidak mukim.
Memang, meski sudah bernama pondok pesantren, kebanyakan santri tidak tinggal di pondok. Meski ada, hanyalah beberapa orang saja.
Akhirnya, terinspirasi dengan pondok tempatnya nyantri dulu di Gontor, didirikanlah Ma’had Muallimien Al-Islamiyah (MMI) pada tahun 1987. Siswa yang sekolah di madrasah Ponpes Mathlabul Ulum, sejak saat itu diwajibkan untuk mukim.
“Sistem yang dianut MMI merupakan sistem di Gontor. Jadi bisa dikatakan kiblat MMI, ya, Gontor,”ungkap Kyai Taufiq.
Perjuangan Kyai Taufiq berbuah manis. Dengan dukungan moril dari masyarakat sekitar, Ponpes Mathlabul Ulum dengan MMI-nya berkembang pesat. Hingga saat ini sudah tercatat ribuan santri dan alumninya. “Saat ini saja yang mukim sekitar lebih dari 500 santri. Kalau yang tidak mukim, ribuan,”tutupnya. ( Farhan, Esha )