Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 25-03-2013
  • 452 Kali

Tembus Rp. 40 Ribu Per-kilogram, Petani Cabe Panen Lebih Awal

News Room, Senin ( 25/03 ) Meroketnya harga cabe rawit dipasaran hingga tembus Rp. 40.000,00 per-kilogram, menarik perhatian sejumlah petani cabe rawit di Desa Pakondang, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, untuk memanen lebih awal. Ahmad Munir, petani cabe asal Desa Pakondang, Kecamatan Rubaru, mengaku terpaksa memanen cabe lebih awal, selain agar bisa terjual mahal juga menghindari kerugian akibat buah cabe yang mulai membusuk setelah diguyur hujan. “Selama sepekan terakhir ini kan hujan terus menerus mengguyur wilayah Sumenep. Otomatis buah cabe rusak, lalu membusuk. Padahal bukan waktunya panen. Tapi, dari pada busuk dan kami rugi, ya terpaksa dipanen saja,”katanya. Dia menyatakan, harga cabe dipasaran saat ini mencapai Rp. 40.000,00 per- kilogramnya bagi cabe kecil yang masak (merah). Sedangkan cabe kecil yang masih muda (hijau), harganya berkisar Rp. 20.000,00 hingga Rp. 25.000,00 per-kilogram. “Harga cabe ditingkat petani berbeda dengan di pasaran. Kalau ditingkat petani harga cabe muda hanya seharga Rp. 7.500,00 hingga Rp. 12.000,00 per-kilogram. Namun di pasaran jauh lebih mahal, bisa mencapai Rp. 20.000,00 lebih per-kilogramnya,”terangnya. Ketimpangan harga itu, lanjut Munir, sering menjadi persoalan dikalangan petani. Mestinya ada kebijakan dari pemerintah kabupaten supaya petani tidak selalu dirugikan dengan permainan harga oleh pedagang maupun tengkulak. “Cabe kami dibeli dengan harga murah. Tapi, disaat kami mau membeli lagi dipasaran harganya mahal sampai melebihi 100 persen ketika membeli ditingkat petani. Kalau kondisi tetap kayak gini, kapan petani cabe bisa makmur,”ujarnya. Munir menambahkan, sudah beberapa tahun, petani cabe yang sebagian besar berada di Kecamatan Rubaru, tiap memasuki musim panen tidak pernah diuntungkan. “Kami hanya bisa berharap pada Pemerintah Kabupaten Sumenep, supaya ada bantuan berupa obat yang bisa memperkuat kondisi cabe saat diterpa hujan terus menerus dan terkait dengan harga juga harus menjadi kajian pemerintah. Semoga saja pemerintah bisa menyeimbangkan harga ditingkat petani dan dipasaran,”ungkapnya penuh harap. Saat ini, petani kembali harus menelan kekecewaan karena kondisi alam. Andai saja ada obat untuk penguat cabe dan pohonnya agar tidak busuk ketika diterjang hujan, kemungkinan besar petani cabe bisa memanen cabe hingga masak (merah). Sehingga harganya tidak terlalu anjlok. “Kalau dijual sudah tua (hampir merah). Harganya bisa mencapai Rp. 25.000,00 lebih per-kilogramnya. Tapi, karena khawatir membusuk, maka dalam kondisi masih muda pun petani berani memanen lebih awal. Akibatnya, harga anjlok,”pungkasnya. ( Nita, Esha )