Media Center, Jumat ( 10/09 ) Pelaksanaan pembelajaran di masa pandemi COVID-19 memberikan tantangan baru bagi para guru dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Karena banyak keterbatasan yang harus dihadapi khususnya pada saat dilaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau secara daring.
Bersyukur saat ini di Kabupaten Sumenep sudah dilaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas atau Luring. Sehingga, pembelajaran mulai kembali berjalan normal meskipun tetap harus dilakukan dengan Protokol Kesehatan (Prokes) yang ketat.
Salah seorang guru kelas 1 di SDN Talango 1 Kepulauan Poteran di Kabupaten Sumenep, Wahyuni, S.Pd.SD mengakui, selama kegiatan PJJ banyak kendala yang dihadapi guru dalam memberikan pelajaran bagi siswa-siswinya. Apalagi bagi siswa kelas awal.
“Dalam pelaksanaan pembelajaran secara Daring tentunya dituntut menggunakan IT, sementara anak-anak yang baru masuk kelas satu di samping keterbatasan kemampuan untuk menggunakan IT, juga keterbatasan kemampuan orang tua siswa,” ungkap Wahyuni, Jumat (10/09/2021).
Meskipun diakui Wahyuni, keterbatasan tersebut saat ini sudah bisa diatasi dengan dilaksanakannya kembali PTM meskipun dengan keterbatasan, kaena dengan Protokol Kesehatan (Prokes) yang ketat, namun setidaknya siswa bisa lebih semangat untuk belajar.
Diakui guru yang juga Fasilitator Daerah (Fasda) Kabupaten Sumenep program Inovasi ini, jika melalui kegiatan pembelajaran yang diperoleh dari Inovasi bisa diterapkan dengan baik meskipun di masa pandemi seperti saat ini. Dan bersyukur kepala sekolahnya Hasifa, S.Pd, sangat merespon kegiatan Inovasi yang dilakukan oleh guru kelas awal.
Seperti halnya ketika diterapkannya asesmen formatif membaca, diawali dengan melakukan komunikasi dengan orang tua siswa saat awal mulai PTM untuk mengetahui sejauhmana kemampuan siswa selama kegiatan PJJ, sehingga dapat diperoleh data berapa siswa yang sudah bisa membaca dengan dikelompokkan sebagai berikut; bisa baca huruf, baca suku kata, baca kata, dan lancar membaca.
“Akhirnya diketahui selama kegiatan PJJ sekitar 1,5 bulan, yakni ada sekitar 7 anak yang masih belum bisa membaca dan perlu bimbingan khusus," jelasnya.
Jadi, bisa diketahui data riilnya dari hasil kegiatan pembelajaran selama daring dan bisa dilakukan evaluasi terhadap kemampuan anak. Kemudian juga bisa diterapkan dari hasil Inovasi, misalnya untuk mengenal perbedaan huruf b, d, p, dan g agar anak menggunting mana huruf yang dimaksud dan dimasukkan ke posisi benar.
Diakui pula jika hal itu memang tidak ada di Tematik, namun ada di Inovasi bagaimana mengenal huruf lewat kata. Jadi tidak mesti harus sesuai buku tema, namun disesuaikan dengan kebutuhannya. Dan kalau masih ada anak yang masih dikelompok huruf atau suku kata ini bisa menggunakan strategi Inovasi dengan menulis bersama.
“Kalau di kelas 1 ini memang harus dilakukan pembelajaran yang menarik caranya disesuaikan kebutuhan, karena mereka ada yang sudah bisa baca dan baru bisa baca huruf,” tambahnya. ( Ren, Fer )