News Room, Senin (21/04) Kerusakan lingkungan mengakibatkan terjadinya bencana alam, perubahan iklim dan pemanasan global, sehingga secara tidak langsung perpengaruh terhadap ketersediaan air, utamanya untuk daerah pertanian. Hal tersebut dapat dilihat dari timpangnya ketersediaan air pada masim kemarau dan musim penghujan. Pada musim kemarau, petani selalu mengeluhkan kurangnya keresediaan air, sedangkan pada musim penghujan ketersediaan air sangat berlebihan, dan tidak jarang mengakibatkan banjir yang juga dapat berakibat buruk pada sektor pertanian. Oleh karena itu pengelolaan air, khususnya untuk sektor pertanian yang dikelola oleh HIPPA harus di manage dengan baik, sehingga tidak ada masalah berkaitan dengan ketersediaan air untuk pertanian. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas PU Pengairan Kabupaten Sumenep, Ir. Mohammad Jakfar, MM dalam acara pembukaan Pelatihan Desain. Konstruksi dan OP partisipatif WISMP 2008 di Hotel Utami Sumenep, Senin (21/04). Moh. Jakfar menyampaikan, pelatihan ini sebenarnya lebih ditekankan kepada ajang silaturrahmi dengan pengurus HIPPA yang merupakan bentuk keterlibatan masyarakat sesuai amanat PP Nomor 20 tahun 2006 untuk bersama-sama mengelola daerah aliran air, sehingga benar-benar dapat bermanfaat bagi masyarakat. Sadar akan hal tesebut, Dinas Pengairan Kabupaten Sumenep melaksanakan beberapa program, diantaranya pembebasan biaya administrasi kepada HIPPA yang masih belum berbadan hukum, serta pemberian bantuan sebesar Rp. 10 juta untuk masing-masing HIPPA sebagai pemberdayaan masyarakat yang dapat digunakan untuk perawatan saluran irigasi yang dikelola. Untuk menanggulangi kekurang air pada musim kemarau, Moh. Jakfar menyampaikan, pihaknya telah membangun lumbung-lumbung air diberbagai tempat sebagai tempat penampungan air pada musim penghujan, sehingga apabila ketersediaan air cukup, maka petani pada musim kemarau mempunyai alternatif dan tidak tergantung pada tembakau, selain itu dengan adanya lumbung aiar, maka akan mengurangi ketergantungan pada sumur bor, karena dalam konservasi tanah keberadaan sumur bor dapat mengurangi jumlah air tanah yang ada, sehingga dapat mengganggu ekosistem dan pelestarian lingkungan. Dalam laporan yang disampaikan Kepala Bidang Kelembagaan dan Kemitraan Dinas PU Pengairan Kabupaten Sumenep, Chainur Rasyid, SE, MM selaku Ketua Pelaksana Kegiatan Pelatihan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan dan ketrampilan pengurus HIPPA pada aspek pengelolaan irigasi, mantapnya keberadaan HIPPA. Dengan harapan HIPPA mampu mengembangkan dan mengelola sistem irigasi secara efektif dan efisien, guna mewujudkan pengembangan pengelolaan sistem irigasi partisipatif. ( Adjie, Esha )