News Room, Selasa ( 08/10 ) Meskipun musim panas terjadi pada tahun ini, dan banyak di daerah lainnya di Sumenep masih tanam tembakau. Namun, Desa Pakondang Kecamatan Rubaru, mayoritas petani tetap memilih tanaman cabe, sejumlah komoditi lainnya dan semacamnya. Kepala Desa Pakondang, Osman kepada News Room, Selasa (08/10) menuturkan, mayoritas petani di Desanya memang tetap memilih tanaman cabe, meskipun bukan musim hujan. Karena, di musim kemarau pun petani tetap mempertahankan tanaman yang harganya sempat mencuat dalam beberapa tahun terakhir. “Masyarakat petani disini sudah cocok dengan tanaman cabe, puluhan hektar di Desa kami ditanami cabe rawit, karena petani sudah seringkali menikmati manisnya tanam cabe,”ujarnya. Dijelaskan, hampir setiap hari, tanaman cabe dikirim oleh pengepul ke Jakarta serta daerah lainnya di Jawa dan sebagainya. Meskipun diakui, harganya memang tidak stabil, namun petani tetap berharap bisa menikmati saat-saat harga cabe naik seperti sebelumnya. Menurut Osman, saat ini harga cabe di petani memang tidak sebagus harga sebelumnya. Namun, menjelang Idhul Adha, harga cabe kembali mulai ada kenaikan. Jika harga cabe biasa di petani sekitar Rp. 19.000,00/ kilogram untuk cabe biru, namun untuk cabe merah bisa lebih tinggi. Bahkan, untuk cabe rawit merah yang biasanya dijual ke pasar oleh petani, bisa mencapai Rp. 40.000,00/kilogram. “Memang rata-rata cabe yang di panen petani yang belum merah, karena pedagang biasanya masih dikirim keluar kota, sehingga jika cabe yang di panen sudah merah, akan membusuk di perjalanan,”jelasnya. ( Ren, Esha )