News Room, Senin ( 24/06 ) Tanah terbelah dan amblas di Dusun Karongkong, Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, semakin meluas. Akibatnya, sebanyak 6 rumah warga setempat roboh. Dari 6 rumah itu, 4 diantaranya roboh total. Sedangkan 2 rumah lainnya 60 persen ambrol, sehingga tidak bisa ditempati. Fenomena alam ini mengundang perhatian Anggota DPRD Propinsi Jawa Timur, Achmad Iskandar, dengan meninjau langsung ke lokasi kemarin (23/06). “Ini memang murni bencana alam. Kami prihatin dengan kejadian tersebut, retakan tanah cukup banyak dengan kedalaman hampir 5 meter lebih. Kami sudah merekam semua retakan dan tanah yang amblas tersebut,”katanya. Pria paroh baya yang duduk dikursi DPRD Jatim dari Partai Demokrat Dapil Madura ini mengungkapkan, untuk rumah yang roboh itu, 5 dari 6 rumah akan direlokasi. “Itu hasil koordinasi anatar Pemkab Sumenep dengan Pemrop Jawa Timur. Diharapkan relokasi nanti berjalan lancar,”harapnya. Kepala Desa Matanair, Ghazali menuturkan, rumah yang roboh itu bersamaan dengan rembetan tanah yang terbelah. Pada awal kejadian Sabtu (15/06) dini hari kemarin, rumah sekitar lokasi hanya retak-retak, namun 2 hari kemudian 1 roboh dan diikuti 3 rumah lainnya. “Tanah yang terbelah dan amblas ini kan bergerak. Dampaknya rumah yang sudah retak-retak sebelumnya langsung roboh, jumlah mencapai 6. Saat ini penghuni 6 rumah tersebut sudah dievakuasi ke posko,”tandasnya. Persoalan yang muncul saat ini, lanjut Ghazali, adalah minimnya air bersih, sehingga warga yang mengungsi harus bisa memaksimalkan air yang ada. Apalagi dampak lain dari tanah terbelah tersebut mengeluarkan asap bercampur pasir berbau belerang, dan banyak warga mengalami gatal-gatal, mual dan pusing. “Yang dibutuhkan sekarang memang air bersih untuk mandi, masak dan mencuci. Selama ini sumber didaerah setempat mulai mengering, jadi warga hanya mengandalkan air hujan. Untuk gatal-gatal, mual dan pusing sudah diatasi oleh Tim Medis yang diluncurkan Pemerintah Kabupaten Sumenep dengan memberikan obat. Warga sudah mulai membaik,”ujarnya. Sementara petugas Tagana Kabupaten Sumenep, Moh. Toha menjelaskan, saat ini warga yang dievakuasi mencapai 40 KK lebih atau sekitar 152 jiwa lebih. “Mereka sudah berada diposko pengungsian. Kebutuhan yang paling mendesak memang air bersih,”terangnya. Untuk asap bercampur pasir berbau belerang hingga Sabtu (22/6) malam masih keluar, namun pada malam hari selama dua jam. “Kami terus mengantisipasi kejadian alam ini, ditambah asap berbau belerang masih keluar. Anehnya keluar malam hari, itupun tidak bisa diprediksi,”tuturnya. Sebelumnya, fenomena alam mengejutkan terjadi hampir bersamaan di 2 lokasi di Sumenep, yakni di Dusun Kecer Laok, Desa Kecer, Kecamatan Dasuk, dan Dusun Karongkong, Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, Sabtu (15/06) dini hari. Tanah di 2 lokasi itu tiba-tiba terbelah dan amblas. Beruntung tidak ada korban jiwa, hanya saja lahan pertanian milik warga yang sedang ditanami cabe, kacang tanah dan ketela pohon, rusak dan tidak di panen, karena warga takut menginjak tanah yang terbelah tersebut. ( Nita, Esha )