News Room, Selasa ( 23/06 ) Bagi masyarakat umum, takjil dianggap sebagai nama makanan santapan buka puasa. Bentuknya juga beragam, dan semua merupakan makanan khas buka puasa. Mulai dari masakan berkuah hingga kering, semuanya ada.
Karena takjil sudah kadung dianggap nama makanan, maka pedagangnya pun untuk selanjutnya dianggap penjual takjil. Padahal, secara etimologi, takjil bermakna jauh dari anggapan tersebut.
“Jika ditelusuri, kata takjil berasal dari bahasa Arab, yaitu takjiilun yang kalau dibaca wakaf menjadi takjiil. Kata asalnya ajjala (fiil madhi) yang bermakna menyegerakan. Menyegerakan di sini yang di maksud dalam konteks buka puasa berdasar hadits yang berasal dari Sahl bin Saad dalam kumpulan hadits Shahih Bukhari,”kata K. R. Nurul Hidayat, guru di TPA Al-Hikmah, Kelurahan Bangselok, pada News Room.
Menurut Gus Nurul, entah siapa sebenarnya yang pertama kali menghembuskan sekaligus mempopulerkan kata takjil. Hingga saat ini kata tersebut seakan-akan menembus semua ruang.
Di setiap daerah tak terkecuali Sumenep, kata ini sangat karib, bahkan seolah-oleh sudah diadopsi sebagai bahasa daerah di Kabupaten paling timur di Nusa Madura ini.
“Ini yang namanya salah kaprah. Tapi bagi pedagang takjil, salah kaprah ini membawa berkah,”tutup alumnus Tarbiyatul Muallimin Al-Islamiyah (TMI) Al-Amien Prenduan ini sambil tersenyum. ( Farhan, Esha )