News Room, Kamis ( 16/04 ) Kalangan keluarga keturunan keraton Sumenep, meyakini 5 jenis senjata pusaka Jenengan Dhalem (peninggalan raja) yang memiliki kelebihan tersendiri di banding pusaka sejenis lainnya. Kelebihan itu tak hanya dari segi kualitas pamor atau bahannya. Lebih dari itu, ke 5 pusaka tersebut diyakini tak bisa dibawa keluar dari Kabupaten Sumenep. Dalam artian tidak bisa dibawa hijrah oleh pemiliknya.
“Mungkin, bagi sebagian kalangan, hal itu tidak masuk akal. Bilangnya, susah dicerna pikiran. Tapi hal-hal irasional bukan lantas tidak ada. Nah, disini tak bicara masalah rasional atau tidak, tapi kenyataannya memang demikian,”kata salah seorang kolektor pusaka di Sumenep, Fahrurrazi Suryoningprang, pada News Room, Kamis (16/04).
Menurut Fahrurrazi, salah satu dari 5 pusaka tersebut pernah dibeli oleh pengusaha di daerah Kalimantan. Namun, tak berapa lama, keris tersebut dibawa lagi ke Sumenep, karena pembelinya jatuh bangkrut.
Sementara pusaka yang lain setiap direncanakan dijual atau bahkan sudah transaksi selalu berakhir dengan gagal. “Ya, bisa saja mengatakannya kebetulan. Tergantung penilaian masing-masing orang. Tapi sejarahnya memang dulu ada ucapan raja, bahwa ke 5 pusakanya tersebut tidak akan bisa keluar dari Sumenep,”tambahnya.
Ke 5 pusaka yang dimaksud itu ialah pusaka Jenengan Dhalem yang memiliki julukan atau berjuluk. Nama julukan itu biasanya disesuaikan dengan maksud pembuat pusaka atau didasarkan pada kejadian luar biasa yang disebabkan oleh pusaka tersebut.
Masing-masing bernama Nogo Besuki, Tondung Perrang, Se Dhamar, Se Serrang Lebat, dan Se Lajing. Ke 5 pusaka tersebut hingga saat ini dikeramatkan, karena dianggap memiliki kelebihan tersendiri.
“Tentu kelebihan tersebut anugerah dari Allah SWT. Pusaka sejatinya benda mati, yang tak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat, kecuali atas idzin-Nya. Dari ke 5 pusaka tersebut hanya ‘Se Dhamar’ yang jatuh ke orang di luar keturunan keraton. Sekarang ada di Pulau Gili. Sedangkan yang 4 pusaka ada di Sumenep, dan pemegangnya merupakan keluarga keturunan keraton,”pungkas Fahrurrazi. ( Farhan, Esha )