News Room, Senin ( 21/12 ) Warga kepulauan Masalembu, Kabupaten Sumenep, kekurangan sembilan bahan pokok (sembako), pasca tidak adanya kapal yang beroperasi ke pulau tersebut. Menurut Maktuf Syarif, salah seorang warga Masalembu, kebutuhan sembako di Masalembu sangat minim, bahkan terancam habis. “Jangankan harganya tinggi, la wong barangnya sudah sulit didapat, terutama beras dan gula pasir. Ini akibat tidak ada kapal ke Masalembu,â€Âujarnya. Ungkapan serupa juga dilontarkan Darul Hasyim, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumenep asal Masalembu. Darul mengatakan, krisis sembako itu terjadi sejak awal bulan Desember. Namun, kondisi terparah terjadi saat ini, sebab dua kapal perintis yang biasa melayani lintasan Kalianget-Masalembu sudah habis masa kontraknya, pada tanggal 16 Desember 2009 kemarin. “Kami memang mendengar masa kontraknya diperpanjang, tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan apakah itu benar diperpanjang atau tidak. Akibatnya krisis sembako dan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Masalembu,â€Âterang Darul, pada wartawan dikantor DPRD Sumenep, Senin (21/12). Kebutuhan sembako dan BBM di Masalembu, kata Darul, sangat tinggi, namun persediaan barangnya yang tidak ada. “Kalaupun ada, harganya sudah mahal. Dan, tidak mungkin warga Masalembu mampu untuk membelinya. Saat ini, warga Masalembu memang membutuhkan pasokan sembako dan BBM,â€Âungkapnya. Untuk itu, pihaknya meminta kepada pihak terkait, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Sumenep, supaya memperhatikan kondisi warga Masalembu, agar segera memberikan kejelasan atas perpanjangan kontrak kapal perintis. “Dalam waktu dekat ini, kami akan segera memanggil pihak terkait, untuk membicarakan persoalan tersebut,â€Âkatanya menambahkan. Adapun harga sembako di Pulau Masalembu, utamanya beras sudah mencapai Rp. 10.000,00 per-kilogram dan gula pasir Rp. 18.000,00 per-kilogram. Sedangkan, harga premium tembus Rp. 15.000,00 dan solar Rp. 10.000,00 per-liter. (Nita, Esha)