Media Center, Jumat ( 17/07 ) Di balik semangkuk bubur sederhana yang disiram kuah gula merah (gula aren), tersimpan sebuah tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Masyarakat Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep, mengenalnya sebagai tajin sappar atau tajin mera pote, hidangan khas yang disajikan setiap datangnya bulan Safar dalam kalender Hijriah.
Tradisi ini diyakini merupakan bagian dari proses panjang akulturasi budaya di Nusantara.
Ketika Islam mulai berkembang sejak abad ke-13, para ulama tidak serta-merta menghilangkan tradisi masyarakat yang telah ada sebelumnya. Sebaliknya, banyak kebiasaan lokal diberi makna baru yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Dari proses inilah lahir berbagai tradisi bulan Safar di Nusantara, termasuk tajin sappar di Madura.
Founder Sumenep Tempo Dulu sekaligus Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Sumenep, Faiq Nur Fikri, menjelaskan bahwa tajin sappar merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang mencerminkan proses akulturasi antara tradisi lokal Madura dengan nilai-nilai Islam.
"Tajin Sappar bukan sekadar bubur khas bulan Safar, tetapi jejak sejarah bagaimana para ulama menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya. Tradisi ini mengajarkan nilai sedekah, kebersamaan, dan mempererat silaturahmi tanpa menghilangkan identitas lokal masyarakat Madura. Tradisi yang masih bertahan hingga hari ini menunjukkan bahwa dakwah Islam di Madura tumbuh dengan merangkul budaya, bukan menghilangkannya," ujar Faiq, Jumat (17/07/2026).
Di berbagai daerah, bulan Safar diperingati dengan cara yang berbeda. Masyarakat Jawa mengenal Rebo Wekasan, Aceh memiliki Khanduri Safar, masyarakat Melayu mengenal Mandi Safar, sementara di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera berkembang tradisi membuat Bubur Safar.
Meski bentuknya beragam, semuanya memiliki benang merah yang sama, yakni menjadikan bulan Safar sebagai momentum mempererat silaturahmi, memperbanyak doa, dan berbagi rezeki kepada sesama.
Tradisi-tradisi ini dapat dipahami sebagai ekspresi budaya masyarakat dalam mengisi bulan Safar dengan amalan yang bernilai positif, seperti sedekah, doa bersama, dan memperkuat hubungan sosial.
Di Madura, nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui tajin sappar. Hidangan ini terdiri atas tajin putih yang terbuat dari bubur beras lembut, kemudian disiram kuah gula merah yang manis. Sebagai pelengkap, ditambahkan pula bulatan-bulatan ketan yang kenyal. Perpaduan warna putih dan merah inilah yang membuat masyarakat menyebutnya tajin mera pote.
Sepintas, tampilannya sangat sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan filosofi yang mendalam. Warna putih dipercaya melambangkan kesucian dan ketulusan, sedangkan warna merah dari gula jawa menjadi simbol semangat, kehangatan, dan harapan akan kehidupan yang manis. Bulatan-bulatan ketan yang lengket juga sering dimaknai sebagai lambang eratnya persaudaraan dan kekeluargaan.
Bagi masyarakat Madura, yang terpenting bukanlah kemewahan hidangannya, melainkan kebersamaan yang lahir dari tradisi tersebut. Semangkuk tajin menjadi media untuk saling berbagi, saling mendoakan, dan menjaga hubungan baik dengan tetangga sekitar.
Resep tajin sappar diwariskan secara lisan dari orang tua kepada anak-anak mereka. Bersamaan dengan itu, nilai gotong royong, kepedulian, dan rasa syukur ikut diwariskan melalui aktivitas memasak dan membagikan tajin kepada sesama.
Di tengah perubahan zaman, keberadaan tajin sappar sebenarnya mulai jarang ditemui di beberapa tempat. Namun, di sejumlah desa di Kabupaten Sumenep, tradisi ini masih terus berlangsung dan dipertahankan.
Kehadirannya menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak selalu berupa bangunan tua ataupun naskah kuno, melainkan juga hidup melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan masyarakat dari tahun ke tahun. Karena itu, tajin sappar bukan hanya kuliner tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya Madura yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. ( Feb, Fer )