News Room, Jum’at ( 30/04 ) Tahun 2012 nanti, dalam lomba penilaian Adipura, Sumenep tak hanya akan berkompetisi dengan Kabupaten/Kota lain. Pada saat itu, seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia akan bersaing dalam penilaian Adipura berskala Internasional. Hal ini diungkapkan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sumenep, Ir. Abdul Muthalib Faradj, Jum'at (30/04). "Selama ini 'kan seakan-akan kompetitor kita hanya Pamekasan, Sampang, atau Bangkalan saja untuk wilayah Madura. Tapi nanti tidak, kompetitor kita pada tahun 2012 adalah orang-orang di luar negeri,"kata Abdul Muthalib pada News Room. Menurut Abdul Muthalib, penilaian Adipura internasional nanti masih terbatas negara-negara di kawasan ASEAN (Assosiation South East Asian Nation), dan sebagian Asia Pasifik. Yaitu diantaranya, Jepang dan negeri Kanguru, Australia. Namun tak menutup kemungkinan nantinya bisa lebih meluas lagi. "Yang dinilai pada tahun itu adalah Negara-negara yang tergabung dalam Asean Working Group on Environmentally Sustainable Society atau yang disingkat AWGESC. Dan Indonesia termasuk di dalamnya,"tambah dosen Fakultas Teknik Sipil Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep ini. Ketika ditanya kesiapan Sumenep menyongsong momentum tersebut, Muthalib mengaku tetap optimis bisa ikut bersaing dengan para kompetitor asing itu. "Dalam hidup ada dua pilihan, mau survive atau hancur. Jelas kita akan memilih survive. Oleh karena itu kita harus tetap optimis,"katanya penuh semangat. Untuk itu, ia meminta masyarakat Sumenep terus mendukung langkah pemerintah dalam membangun ekologi yang saat ini menurutnya tengah terpuruk karena dimadu, alias dinomor duakan. "Yang masih dinomorsatukan masih berkutat pada masalah ekonomi. Padahal, ekologi juga tak kalah pentingnya. Karena juga memiliki benang merah kuat dengan kelangsungan hidup manusia, sekarang dan yang akan datang. Oleh karena itu sudah tak relevan lagi mendikotomi dua hal itu,"ujarnya panjang. Tak lupa Abdul Muthalib juga menambahkan bahwa Adipura bukan tujuan akhir. Yang terpenting menurutnya adalah mengubah mainstrem masyarakat untuk sadar dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. "Mungkin pada suatu saat nanti tak perlu lagi ada penilaian Adipura. Karena pola pikir masyarakatnya dalam menyikapi ekologi sudah tertata dengan baik,"harap lulusan Teknik Kimia ITS Surabaya ini. ( Farhan, Esha )