Media Center, Senin ( 26/02 ) Sejarah Sumenep dan Madura pada umumnya terdiri dari yang sifatnya seni dan ilmu. Menurut salah satu pemerhati sejarah muda Sumenep, Hairil Anwar, literatur sejarah saat ini, khususnya Sumenep, belumlah ada yang membahas sejarah sebagai ilmu.
"Sepanjang yang saya tahu, seperti buku Sejarah Sumenep sendiri masih dikategorikan sejarah sebagai seni," kata anggota TACB Sumenep ini.
Dalam buku terbitan Disparbud 2003 itu memang banyak hal yang dipertanyakan. Seperti misalnya pencantuman tahun. Khususnya di masa antara Aria Wiraraja hingga dinasti Kanduruhan.
"Tak ada prasasti atau literatur mengenai itu,"kata Hambali, pemerhati sejarah lainnya.
Hambali bahkan berpendapat, penguasa Sumenep hanya Aria Wiraraja, lalu yang ada makamnya di Asta Tinggi hingga trah Bindara Saut. "Selain itu hanya dongeng atau cerita rakyat," katanya.
Menurut R. Nurul Hidayat, sudah saatnya Sumenep menerbitkan buku sejarah yang memang membahas sejarah sebagai ilmu. "Harus itu. Dan ini merupakan tugas kita bersama dengan dukungan beberapa pihak yang berkompeten," kata salah satu keluarga keraton ini. ( M Farhan M, Esha )