Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 08-04-2005
  • 805 Kali

SUBSIDI BIAYA MINIMAL PENDIDIKAN HARUS DIPERGUNAKAN BAGI KEPENTINGAN SISWA

Sumenep-Infokom News Room : Program Pemerintah Propinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan Jatim untuk membebaskan biaya SPP bagi siswa SD/ MI dan SMP/MTs melalui Subsidi Biaya Minimal Pendidikan (SBMP) disambut positif oleh pihak Sekolah yang ada di Sumenep. Salah satunya disampaikan oleh Kepala SMPN I Kalianget, Drs. Ata’ar Rahman, S.Pd, M.Si ketika ditemui News Room, Kamis (06/04). Menurutnya, meski dana SBMP tersebut sampai saat ini belum turun, namun pihak sakolah sudah melakukan persiapan dengan pihak Komite Sekolah, bagaimana baiknya apabila nanti dana tersebut sudah turun. Sehubungan para siswa sudah membayar uang SPP sebagaimana mestinya sejak bulan Januari hingga bulan April Tahun ini menurut Rahman, sesuai kesepakatan sekolah bersama Komite, dana SBMP tersebut nantinya akan dikembalikan dalam bentuk tabungan kepada masing-masing siswa, sehingga nantinya dapat dipergunakan para siswa untuk membeli peralatan sekolah, seperti buku LKS dan sebagainya. Hal yang sama juga disampaikan Kepala SMPN II Kalianget, Drs. Moh. Hasan. Diakuinya, meski dana SBMP nantinya akan tetap diberikan secara utuh kepada siswa, namun penggunaan dana tersebut diarahkan atau dipergunakan oleh siswa itu untuk kepentingan sekolah, misalnya untuk biaya les komputer, ujian dan biaya lain yang penggunaanya untuk sarana belajar siswa. Apalagi menurut Hasan, mayoritas siswanya tergolong tidak mampu, sehingga pembiayaan yang memberatkan kepada siswanya itu sebisa mungkin ditangani sekolah. Diakui pula, bahwa dari 350 siswa kelas I hingga kelas III, terdapat 25 persen siswa yang dibebaskan dari biaya apapun, termasuk SPP yang hanya Rp. 7.500/ bulan. Bahkan Hasan juga secara terang-terangan menolak penjualan buku LKS dan baju seragam kepada siswa. Namun sekolah berusaha melengkapinya di Perpustakaan sekolah dengan memfoto copy yang dipinjamkan cuma-cuma kepada siswa. Hal itu dilakukan menurut Kepala SMPN II Kalianget ini karena merasa prihatin dengan bisnis buku kepada siswa selama ini, yang tanpa memperhatikan kemampuan orang tua siswa. Hanya saja konsekuensinya, guru di sekolahnya akan lebih ekstra memberikan pelajaran kepada siswa dan siap menjadi pengabdi sejati, tanpa HR penjualan buku. ( Ren, Im, Esha, Diek )