News Room, Senin ( 02/05 ) Meskipun sebelumnya sempat dilakukan study banding dan konsultasi mengenai pola penanaman dan jual beli tanaman tembakau hingga ke Nusa Tenggara Barat (NTB) namun kondisi cuaca yang seperti ini tidak akan berpengaruh kepada peningkatan ekonomi masyarakat petani tembakau. Karena itu perlu terus dilakukan solusi cerdas dalam menjawab kebutuhan masyarakat petani tersebut. Hal itu diungkapkan anggota Komisi B DPRD Sumenep, Husaini Adhim di gedung DPRD Sumenep tadi siang, Senin (02/05). Menurutnya, meskipun aturan yang mengatur soal jual beli dan penanaman sudah bagus, namun cuaca tidak mendukung tentu tidak aka nada artinya. Sementara petani tembakau masih tetap fanatic dengan tanaman tembakau yang dianggapnya mampu meningkatkan penghasilan mereka. “Selama ini memang petani sudah kadung menikmati hasil dari tanaman tembakau yang sukses selama beberapa tahun lalu, namun mereka tidak berfikir dengan kondisi cuaca saat ini yang tidak menentu,”ujarnya. Karena itu, tegas politisi asal PAN ini perlu sosialisasi tanaman alternatif yang bisa memberikan penghasilan tidak kalah dengan hasil tanaman tembakau. Padahal, ada banyak tanaman alternative yang daya jual dan potensinya bisa melebihi tanaman tembakau, namun belum ada sentuhan kepada petani untuk beralih tanam. Seperti halnya tanaman jambu mente dan cabe jamu yang saat ini kembali menjadi tanaman primadona seperti pada saat masa awal tanaman itu diuji coba beberapa tahun lalu. Bahkan saat ini harga cabe jamu misalnya sudah tembus Rp.70 ribu perkilogram. “Itu peluang sekaligus tantangan bagi kita, khususnya leading sektor yang berkompeten menangani persoalan yang dihadapi petani saat ini,”tambahnya. Meskipun diakui, untuk memberikan kepercayaan kepada masyarakat petani tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, diperlukan upaya ekstra petugas maupun penyuluh lapangan dalam mensosialisasikan kepada petani, yang memang sulit percaya dengan tanaman alternative yang sering disodorkan petugas pertanian. ( Ren, Esha )