News Room, Sabtu ( 22/01 ) Menjadi seorang “Sinden“ kerawitan, susah-susah gampang. Tidak cukup memiliki suara bagus, lemah gemulai dan banyak menguasai tembang dan sebagainya. Namun, sinden memerlukan stamina ekstra dan harus betul-betul siap lahir dan bathin. Sebab, meskipun banyak yang memuji, sinden seringkali di cap gampangan dan semacamnya. Jadi memang harus memiliki kemampuan menangkal segala bentuk serangan lahir dan bathin. Begitulah sekilas pengakuan dari seorang sinden asal Desa Tanahmera Kecamatan Saronggi, Susmiyatun. Meskipun capek habis manggung seharian, dia terkesan tetap harus tampil meyakinkan pada malam harinya. “Disamping capek tenaga, suara juga capek pikiran mas. Sebab, seharian tidak pulang dan belum ketemu anak,”ujarnya ketika ditemui News Room disela-sela manggungnya, di Desa Batuputih Laok Kecamatan Batuputih. Dia mengaku, meskipun sering hujan, dalam beberapa bulan ini hampir tiap hari manggung. Bahkan, terkadang manggung bisa seharian dan malamnya pun kembali manggung. Sebab, kalau menolak, khawatir penawar jasanya tersinggung dan tidak lagi mengundangnya kalau punya hajatan. “Jadi, saya berusaha menjaga kondisi, agar tetap tampil prima dan suara yang tetap nyaring, yakni dengan rutin minum jamu tradisional,”ujarnya. Ibu dua anak ini menceritakan, pertama kali manggung sekitar 4 tahun lalu ketika pada saat dirinya masih menjadi penabuh kerawitannya. Dan kebetulan sinden yang ditunggu-tunggu terlambat, sehingga spontan dirinya mau ketika ditawari menggantikan sinden aslinya. Meskipun sudah sering nembang (ngijung), namun Susmiyati mengaku sempat minder. Namun, ternyata penampilan pertama mungkin menyakinkan para penonton, sehingga tawaran manggung maupun menggantikan sinden seringkali diterimanya. “Karena, ternyata enak sekalian nyemplung sebagai sinden hingga saat ini, dan syukurlah saya bisa dikatakan sukses dari sisi finansial dan bisa menyekolahkan anak-anak,”tambahnya. Sebab, bisa dibayangkan, jika setiap manggung seorang sinden bisa mengantongi uang minimal Rp. 500.000,00 hingga Rp. 2.000.000,00 belum lagi uang saweran yang kadang berlipat ganda dari bayaran manggung. Disamping menjadi kekayaan budaya dan promosi wisata di Sumenep, ternyata profesi sinden bisa memperkaya pelakunya. ( Ren, Esha )