News Room, Senin ( 16/09 ) Penerapan kurikulum 2013 yang telah diimplementasikan tahun ini, menjadi sinyal kebangkitan pendidikan kita di masa mendatang. Karena diyakini, bahwa iktikad pemerintah menerapkan kurikulum baru, telah melalui berbagai kajian-kajian komprehensif dan matang. Sebab, kurikulum pendidikan adalah ruh yang akan menentukan sukses tidaknya penyelenggaraan pendidikan masa kini dan masa mendatang. Bupati Sumenep, KH. A. Busyro Karim, M.Si, pada pembukaan Seminar Nasional dan Pelantikan Pengurus Persatuan Guru Nadhlatul Ulama (Pergunu), yang membahas kurikulum baru 2013, bertempat di Graha Adipoday Sumenep, Minggu (16/09). Menurutnya, pergantian kurikulum ini tidak terjadi secara serta merta. Namun, gambaran ideal pendidikan masa depan Indonesia tersebut ia dapatkan dari Al-Quran. “Konsep itu meliputi tazkiyah atau sikap, tilawah atau pengetahuan dan ta alim atau ketrampilan. Yang pada hakikatnya, untuk mengatasi 3 penyakit masyarakat, yakni kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan peradaban,”ujarnya. Bahkan, Bupati secara khusus berpesan kepada pengurus Pergunu masa khidmat 2013-2018, agar organisasi ini dikelola dengan sebaik-baiknya. Kehadiran Pergunu, harus memberikan nilai tambah bagi kemajuan pendidikan di Kabupaten Sumenep. Serta menjadi organisasi yang unggul, yang bisa menjadi contoh bagi organisasi guru yang lain. Untuk itu perlu percepatan dari semua sisi, sebagai lembaga baru di Sumenep, hendaknya melakukan percepatan dalam memberikan sumbangsih yang baik bagi dunia pendidikan di Sumenep. Untuk itu, sebelum melakukan program, Pergunu harus memiliki strategi yang bagus, strukturnya kuat, dan sistemnya berjalan dengan baik. “Jika ada masukan dan strategi pendidikan yang sesuai dengan konteks daerah kita, kami akan menerimanya dengan tangan terbuka. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Yang terpenting, masalah-masalah tersebut kita sikapi secara bijak dan intelektual,”tambahnya. Kegiatan workshop tersebut mendatangkan sejumlah narasumber, diantaranya, Prof. Dr. Kacung Marijan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, KH. Asep S. Chalim dari Pergunu Pusat, Prof. Dr. Yatim Riyanto dari Unesa Surabaya, dan Dr. Ach. Muzakki dari PWNU Jawa Timur. ( Ren, Esha )